Thursday, 1 July 2010

Mutiara Hitam 4f

“Siapakah jago kalian? Mana dia? Suruh dia naik ke sini!”

Akan tetapi tentu saja puluhan orang itu tidak ada yang mengerti apa yang dimaksudkannya karena mereka itu bukan rombongan tertentu, dan sama sekali tidak punya jago. Karena tidak ada yang menjawabnya, Bu-tek Siu-lam diam-diam menjadi marah, menganggap mereka itu tidak sopan dan tidak menghormati­nya. Tiba-tiba ia tertawa dan tahu-tahu tubuhnya yang tinggi itu sudah melayang turun dari puncak, tiba di antara puluhan orang yang menonton itu. Para penonton ini tidak menyangka buruk, bahkan menjadi girang dapat melihat orang aneh itu dari dekat. Mereka tersenyum-senyum kepada Bu-tek Siu-lam karena orang aneh yang tampan dan genit ini pun tertawa­-tawa.

Akan tetapi secara mendadak suara ketawa mereka terhenti ketika Bu-tek Siu-lam menangkap seorang di antara mereka yang terdekat, menangkap gelung rambut orang itu, seorang laki-laki ber­usia tiga puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan kuat. Sekali sambar dengan tangan kanan, laki-laki itu dijam­bak rambutnya dan digantung. Laki-laki itu terkejut dan berteriak kesakitan.

“Hi-hik, inikah jago kalian? Atau ada yang lain lagi?” Bu-tek Siu-lam bertanya sambil tertawa-tawa dan mengangkat-angkat tubuh yang tergantung di tangan kanannya itu. Karena kesakitan, orang itu menjadi marah sekali. Betapapun juga, dia adalah seorang laki-laki yang kuat dan pernah belajar silat, maka ten­tu saja tidak mau dihina oleh orang aneh ini.

“Bedebah! Lepaskan aku!” teriaknya dan tangan kirinya menghantam ke arah dada Bu-tek Siu-lam.

“Crakkk!”

Laki-laki itu menjerit dan darah me­nyembur dari lengan kirinya yang sudah buntung sebatas siku karena pukulannya tadi ditangkis dengan guntingan, dilaku­kan oleh tangan kiri Bu-tek Siu-lam yang entah kapan sudah mencabut guntingnya! Saking sakitnya, Laki-laki itu meronta-ronta dan menjadi nekat, menggunakan tangan kanan dan kedua kakinya meng­hantam dan menendang agar terlepas dari cengkeraman orang aneh itu.

“Crak-crak-crak!”

Sungguh hebat pemandangan itu. Me­ngerikan sekali! Laki-laki yang tergan­tung itu kini buntung semua lengan dan kakinya! Darah bercucuran dan Laki-laki itu matanya mendelik, mukanya pucat tak berdarah lagi, agaknya sudah tewas di saat itu juga, atau pingsan! Kejadian ini membuat para penonton menjadi pa­nik, ada yang lari, ada yang jatuh ba­ngun, ada pula yang seketika menjadi lumpuh tak dapat lari saking takutnya.

“Hayo mana jagomu. Inikah? Crak­-crak! Atau ini? Crak-crak-crak!” Sambil tertawa-tawa Bu-tek Siu-lam mengerja­kan guntingnya setelah melemparkan korban pertama ke atas tanah. Ia tidak menggunting badan atau leher, melainkan kaki dan tangan sehingga sebentar saja belasan orang sudah bergelimpangan dengan kaki tangan buntung! Darah mem­banjir dan mereka yang menjadi korban kebiadaban ini berkelojotan dan mati karena kehabisan darah!

“Heeii, anak-anakku semua kaum kai­-pang! Lihat, beginilah akan kuperlakukan terhadap musuh-musuh kita kalau aku menjadi Bengcu!”

Para pengemis itu biarpun tadinya merasa ngeri menyaksikan kekejaman yang luar biasa itu, namun karena me­reka sendiri adalah golongan kaum sesat yang berwatak kejam dan senang melihat orang lain bukan golongannya menderita, lalu bersorak girang.

“Hidup Locianpwe Bu-tek Siu-lam!”

“Tidak ada yang dapat melawan ke­gagahan Locianpwe!”

Demikianlah teriakan-teriakan mereka dan Bu-tek Siu-lam berdiri sambil tersenyum bangga dan puas. Semen­tara itu sisa para penonton yang panik ­dan ketakutan itu kini melarikan diri ke sebelah barat menjauhi rombongan pengemis yang mendaki puncak dari sebelah timur. Hati mereka lega karena orang aneh kejam itu tidak mengejar mereka, agaknya Bu-tek Siu-lam yang sudah membunuh belasan orang untuk mendemonstrasikan kepandaian dan kekejamannya telah puas.

Di antara rombongan pengemis itu ­terdapat seorang pengemis tua yang terkenal dengan julukan Tiat-ciang Lo-kai (Pengemis Tua Tangan Besi) dan namanya hanya disebut Hoan-lokai. Dia adalah tokoh pengemis semenjak mudanya, dan ­semenjak dahulu menjadi tokoh Hek-coa Kai-pang. Perkumpulan Hek-coa Kai-pang ini sudah mengalami banyak sekali perubahan, dari pimpinan prang baik-baik sampai pimpinan orang-orang sesat. Akan tetapi Hoan-lokai tidak pernah ambil peduli, selalu dia setia kepada Hek-coa kai-pang. Hal ini adalah karena Hoan-lokai mempunyai penyakit pikun dan tak mau tahu akan segala urusan. Pendeknya, ia hanya tahu bahwa ia harus setia terhadap perkumpulannya yang didirikan oleh seorang pamannya dahulu. Begitu bodoh dan tidak normal pikiran Hoan-lokai ini sehingga ia tidak tahu lagi apakah perkumpulannya berada di tangan pimpinan baik-baik atau sesat. Kali ini ia pun ikut rombongan hanya untuk menonton dan sama sekali tidak tahu macam apa orang yang dipilih perkumpulannya sebagai bengcu. Maka tadi pun ia hanya ikut bergerak kalau rombongannya bergerak.

Akan tetapi, begitu menyaksikan kekejaman yang amat luar biasa dan di luar batas perikemanusiaan ini, semangatnya tergugah dan kemarah­annya membuat mukanya merah dan matanya melotot. Apalagi ketika melihat betapa para pengemis yang menjadi anggauta-anggauta perkumpulannya kini sambil tersenyum-senyum memuji orang kejam aneh itu mulai menyeret mayat-mayat yang bergelimpangan dan melem­parkan mayat-mayat itu ke dalam jurang atas perintah Bu-tek Siu-lam, ia menjadi makin penasaran. Kalau ia melihat anak buah merampok atau memeras, ia masih tidak peduli karena betapapun juga yang dirampok dan diperas tentulah orang yang kaya. Akan tetapi menyaksikan pembunuhan-pembunuhan tanpa alasan terhadap orang-orang yang sama sekali tidak berdosa, benar-benar ini menembus kebodohannya dan membuat hatinya memberontak.

“Hei, kau ini mengapa begini kejam seperti iblis?” bentaknya sambil meloncat maju ke depan Bu-tek Siu-lam.

“Hoan-lokai, jangan sembrono....!”

“Hoan-lokai, jangan kurang ajar ter­hadap calon bengcu....!”

Teriakan-teriakan peringatan para pimpinan Hek-coa Kai-pang ini tidak dipedulikan oleh Hoan-lokai yang sudah menjadi marah sekali. Ia sudah meloncat naik ke bagian paling atas dari puncak itu, berhadapan dengan Bu-tek Siu-lam. Ketika semua orang memandang dan melihat betapa kedua tangan pengemis ini berubah menjadi hijau, mereka ter­kejut dan mengeluarkan teriakan kaget. Warna hijau pada kedua tangan ini men­jadi tanda bahwa Tiat-ciang Lo-kai ini sudah mengerahkan semua tenaga Tiat-ciang pada kedua tangan! Jarang sekali kakek itu menggunakan ilmunya dan biarpun semua orang tahu akankeampuhan kedua tangannya, namun belum pernah mereka melihat Hoan-lokai mengerahkan tenaga Tiat-ciang sampai kedua tangan menjadi hijau! Kini tak seorang pun mengeluarkan suara, hanya memandang ke atas puncak dengan muka pucat dan mata terbelalak. Betapapun juga, kejadi­an ini menegangkan hati dan menyenang­kan, karena mereka mendapat kesempat­an untuk menyaksikan kelihaian orang yang hendak mereka angkat menjadi bengcu itu. Tentang keselamatan Hoan­-lokai, siapa peduli? Kakek ini biarpun memiliki ilmu tinggi, namun bodoh dan tidak tahu urusan. Kematiannya pun tak­kan merugikan siapa-siapa.

Sementara itu, ketika Bu-tek Siu-lam melihat majunya seorang pengemis tua bermuka jelek yang kedua tangannya hijau, ia hanya tertawa dan menyelipkan guntingnya di pinggang. Ia tahu akan sikap kakek pengemis itu yang marah, dan tahu pula bahwa kedua tangan yang hijau itu mengandung tenaga mujijat, namun Bu-tek Siu-lam agaknya sama sekali tidak memandang mata.

“Kau mau apa?” tanya Bu-tek Siu­lam dengan sikap angkuh sambil meman­dang pengemis itu dengan kepala dimiringkan.

“Kau ini manusia apakah iblis? Kalau manusia, mengapa kau membunuhi orang sekejam itu tanpa alasan?” tanya Hoan-lokai dengan muka merah dan mata me­lotot.

Bu-tek Siu-lam tertawa terbahak-bahak. Kepalanya mendongak ke atas dan ia sama sekali tidak peduli lagi bah­wa kakek pengemis itu sudah melangkah maju dengan sikap mengancam sekali. Kemudian tanpa memberi peringatan lagi karena marahnya melihat sikap orang aneh itu yang amat sombong, Hoan-lokai sudah menggerakkan tangan kanannya menghantam ke arah perut Bu-tek Siu­lam. Pukulan ini keras sekali, sesuai dengan sifat ilmu pukulan Tiat-ciang-kang. Dengan ilmu pukulan seperti ini, pengemis tua itu sanggup memukul han­cur sepotong batu, karena tangannya seperti besi saja keras dan kuatnya.

Namun bagi seorang tokoh besar se­perti Bu-tek Siu-lam, tentu saja kepan­daian seperti ini tidak ada artinya sama sekali, termasuk kepandaian luar yang kasar. Ilmu Tiat-ciang atau semacam Tiat-see-ciang adalah ilmu gwa-kang atau ilmu luar yang dikuasai seseorang hanya dengan latihan-latihan berat mempergu­nakan kekuatan kulit daging, maka bagi seorang berilmu seperti Bu-tek Siu-lam, pukulan itu hanya keras dan kuat saja, sama sekali tidak mengandung hawa sakti yang boleh dipandang. Tingkat Bu-tek Siu-lam jauh lebih tinggi karena tokoh ini sudah tidak lagi memhutuhkan tenaga kasar untuk mempergunakar, kepandaian­nya. Seseorang yang sudah menguasai ilmu silat tinggi, tidak lagi membutuhkan bantuan tenaga kasar, melainkan lebih mengandalkan hawa sakti dari dalam tubuhnya untuk dipergunakan secara te­pat. Seorang ahli ilmu silat tinggi men­dasarkan tenaga dalam yang sifatnya lunak dan lembut, seperti pasir atau tanah seperti air, atau lunak ulet seperti karet. Kalau seorang yang mengandalkan tenaga kasar menggunakan tenaganya seperti besi sifatnya, apakah yang dapat ia lakukan terhadap sifat lunak dan lemas itu? Besi dapat menghancurkan batu atau benda-benda lain karena keras bertemu keras, akan tetapi kalau besi dipukulkan karet, takkan ada artinya bahkan me­mukul diri sendiri, kalau dihantam­kan pasir, tanah atau air yang tak me­lawan, akan lenyap dan tenaga pukulan­nya akan tersedot tanpa guna.

“Wuuuuttt.... desss!” Pukulan tangan Tiat-ciang yang dilancarkan Hoan-lokai itu tepat sekali mengenai perut Bu-tek Siu-lam. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati Hoan-lokai ketika ia merasa betapa tangannya itu amblas atau tenggelam ke dalam perut, sama sekali tidak menemui perlawanan seperti orang memukul kapas. Namun Hoan-lokai ada­lah seorang ahli silat yang sudah banyak pengalaman. Ia segera maklum bahwa orang aneh kejam seperti iblis ini adalah seorang ahli Iwee-keh (tenaga dalam), maka ia cepat-cepat menggunakan tangan kirinya menghantam ke arah dada.

“Wuuuuttt.... dukkk!” Kali ini dada itu dibusungkan penuh hawa sakti sehingga pukulan tangan kiri Hoan-lokai seperti memukul karet dan membalik. Untung bahwa Hoan-lokai tadi menggunakan sia­sat, hanya menggunakan setengah tenaga­nya, sedangkan tenaga setengahnya lagi ia pergunakan untuk mencabut lengan kanan yang “menancap” ke dalamperut. Ia berhasil dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

“Ha-ha-hi-hi-he-hehh....!” Bu-tek Siu-lam tertawa, suara ketawanya genit se­kali, berirama dan berlagu seperti orang bernyanyi! “Jembel busuk, apakah kau hendak memberontak? Teman-temanmu mengangkatku sebagai Bengcu, kenapa engkau sendiri hendak melawan aku?”

“Manusia iblis! Kau bukan manusia, engkau setan. Engkau akan menyeret Hek-coa Kai-pang ke dalam neraka!”

Dengan kemarahan meluap, Hoan-lokai sudah menerjang maju lagi. Di tangan kanannya tampak seekor ular hitam yang panjangnya semeter lebih. Ular itu mendesis-desis dan kepalanya menyambar, mendahului tangan Hoan-lokai, ke arah leher Bu-tek Siu-lam. Namun tokoh aneh itu hanya tersenyum dan sekali dua jari tangan kirinya me­nyambar ke depan, leher ular itu telah putus karena telah digunting kedua buah jari tangannya tadi!

Hoan-lokai melempar bangkai ular hitamnya dan hatinya marah bercampur duka. Ular hitam itu bukan sembarang ular, melainkan binatang peliharaannya. Sesuai dengan nama perkumpulan Hek­-coa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Ular Hitam), maka semenjak dahulu para pemimpinnya tentu memelihara ular hitam yang mempunyai dua kegunaan. Pertama adalah dipelihara untuk diambil racunnya yang dapat dicampur dengan obat penguat tubuh, kedua kalinya di waktu amat perlu dapat dipakai sebagai senjata yang ampuh karena ular hitam ini beracun. Kini ular yang sudah dipeli­haranya bertahun-tahun itu demikian mu­dah terbunuh! Sambil memekik keras Hoan-lokai lalu menerjang maju dan kali ini kedua kepalan tangannya secara ber­bareng, dengan pengerahan tenaga Tiat-ciang-kang sekuatnya, menghantam perut.

“Wuuuttt.... ceppp....!”

Dua buah kepalan tangan Hoan-lokai masuk ke perut karena sama sekali tidak dielakkan oleh Bu-tek Siu-lam! Akan tetapi segera kakek pengemis itu me­ronta-ronta dan mukanya menjadi pucat sekali, keringatnya keluar memenuhi muka yang berkerut-kerut. Jelas bahwa ia menderita nyeri yang hebat. Kedua kepalan tangannya yang masuk ke dalam perut lawan itu seperti dibakar api panasnya. Rasa panas menjalar melalui lengan terus ke seluruh tubuh. Ia berusaha untuk meronta, mengerahkan seluruh tenaga untuk mencabut keluar kedua tangannya, namun sia-sia belaka. Bu-tek Siu-lam hanya tertawa, suara ke­tawanya lucu menyeramkan.

“Pergilah!” bentaknya nyaring dan tubuh Hoan-lokai terdorong ke belakang ketika Bu-tek Siu-lam mengerahkan te­naga. Akan tetapi sebelum tangannya terlepas dari “cengkeraman” perut, ter­lebih dahulu terdengar suara “pletok-pletok!” dua kali dan ketika kedua ta­ngan itu sudah bebas, ternyata tulang-tulang tangannya sudah remuk dan patah-patah! Kedua lengan itu tergantung lumpuh dan rasa nyeri menusuk sampai ke jantung dan tulang sumsum.

Muka Hoan-lokai menyeramkan sekali. Rasa nyeri membuat mukanya pucat pe­nuh keringat, dan garis-garis keriputnya makin dalam, matanya merah dan basah, mulutnya menyeringai. Dia memang se­orang yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi karena kecerdikannya kurang, maka Hoan-lokai tak dapat sadar bahwa kini ia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih tinggi ilmunya. Saking hebat­nya rasa sakit yang dideritanya, ia men­jadi makin marah dan nekat. Dengan pekik yang menyeramkan ia lalu menerjang maju lagi, kedua lengannya ber­gantungan lumpuh, dan kini ia menyerang dengan menggunakan kepalanya! Seruduk­an seperti ini sama sekali tak boleh dipandang ringan karena dengan kepala­nya, Hoan-lokai sanggup menyeruduk roboh sebuah dinding tembok yang kuat!

Akan tetapi Bu-tek Siu-lam hanya berdiri dengan tegak sambil tertawa ha­-ha-hi-hi, memasang perutnya yang se­ngaja ia busungkan untuk diseruduk lawan. Tak dapat dihindarkan lagi tubrukan antara kepala dan perut itu.

“Suppp!” Kepala itu dengan tepat menghantam perut dan tiba-tiba perut yang tadinya membusung itu serentak

mengempis sehingga kepala Hoan-lokai tersedot masuk ke rongga perut! Aneh sekali kejadian ini. Kepala menancap di perut sampai dalam sehingga mata dan hidung Hoan-lokai tak tampak, hanya mulutnya yang tampak menggigit-gigit bibir seperti menahan kesakitan hebat. Kedua lengan yang tangannya remuk itu bergerak-gerak seperti meronta, demikian pula kedua kakinya menendang-nendang tanah di bawahnya. Biarpun semua orang yang hadir belum pernah menyaksikan ilmu yang sehebat itu, yaitu mengguna­kan perut menangkap kepala orang, namun semua sudah dapat menduga be­tapa kepala Hoan-lokai, seperti kedua tangannya tadi, akan menjadi remuk ter­gencet!

Pada saat itu, dari bawah puncak gunung terdengar suara orang tertawa, suara ketawanya keras sekali dan ter­bahak-bahak terpingkal-pingkal seakan-akan orang itu melihat sesuatu yang amat lucu. Terdengar lucu sekali, akan tetapi semua pengemis yang berkumpul di dekat puncak menjadi kaget dan ber­diri bulu tengkuk mereka karena suara ketawa ini bergema di empat penjuru dan mendatangkan hawa dingin yang membuat jantung seakan-akan berhenti berdetik. Mereka saling pandang dengan melongo. Belum lenyap suara gema ketawa itu, tiba-tiba muncul orangnya. Amat tidak patut dengan suara ketawa­nya. Kalau suara ketawanya besar dan dalam, panjang dan bergema, sepatutnya suara seorang raksasa tinggi besar, orang­nya ternyata biasa saja, bahkan kurang daripada ukuran biasa. Kecil kurus, se­demikian kurusnya seperti cecak kering, tinggal kulit membungkus tulang-tulang yang kecil, sudah amat tua sehingga sukar ditaksir berapa usianya. Rambutnya hanya sedikit di atas kepalanya yang kecil, alisnya tebal panjang menutupi matanya yang hanya tampak sebagai dua bayangan hitam. Namun kumisnya yang melintang di tengah muka yang sempit itu amat panjang. Punggungnya dilingkari sabuk yang aneh dan lucu pula karena

sabuk itu penuh dengan dompet-dompet kecil berjajar di sekeliling perutnya. Di punggungnya tampak sebuah bambu yang panjangnya dua kaki, diikat di punggung dengan tali. Bajunya berlengan pendek sebatas pangkal lengan, celananya pan­jang kakinya telanjang. Benar-benar se­orang yang aneh dan lucu sekali. Apalagi kalau orang melihat mukanya, muka yang kelihatan serius dan galak, pantasnya ia pemarah sehingga sama sekali tidak cocok dengan suara ketawa terkekeh-kekeh yang keluar dari mulutnya sedang­kan mulut itu sendiri tidak tertawa!

Berbareng dengan munculnya kakek yang aneh ini, dari bawah puncak muncul pula serombongan orang yang beraneka macam bentuk dan pakaiannya, akan tetapi sebuah bendera yang dipegang oleh seorang di antara mereka bertuliskan huruf Thian-liong-pang dengan gambar seekor liong (naga). Kiranya rombongan itu adalah rombongan perkumpulan Thian­liong-pang yang sudah kita kenal, yaitu perkumpulan yang diselewengkan oleh Sin-seng Losu dan dua belas orang murid-muridnya, yaitu yang terkenal dengan julukan Dua Belas Ekor Naga! Melihat rombongan ini, mudahlah diduga sekarang siapa adanya kakek kecil kurus yang aneh itu. Dia bukan lain adalah Siauw­ bin Lo-mo (Iblis Tua Muka Tertawa)! Siauw-bin Lo-mo yang belum lama ini menggemparkan dunia persilatan. Sebe­tulnya, julukannya Iblis Tua Muka Ter­tawa kurang tepat karena biarpun suaranya kalau tertawa seperti orang terping­kal-pingkal, akan tetapi mukanya sama sekali tak pernah memperlihatkan senyum sedikit pun, apalagi ketawa!

Kedua kaki orang aneh ini tidak tam­pak bergerak, akan tetapi tahu-tahu ia sudah berada di depan Bu-tek Siu-lam, yaitu di belakang tubuh Hoan-lokai yang kepalanya masih “menancap” dalam perut Bu-tek Siu-lam. Melihat datangnya orang kate kecil ini, Bu-tek Siu-lam sama se­kali tidak memandang mata dan ia masih tersenyum-senyum bangga sedangkan kedua kaki Hoan-lokai masih berkelojotan dalam usahanya membebaskan kepalanya dari perut lawan. Kepalanya terasa makin panas seperti akan meledak dan sakitnya tak dapat diceritakan lagi sa­king hebatnya.

“Huah-hah-heh-heh-heh!” Siauw-bin Lo-mo tertawa bergelak tanpa mengge­rakkan bibir atau membuka mulut. Suara ketawa itu seperti keluar dari dalam perutnya yang kecil! “Gunung di barat takkan dapat berjumpa dengan laut di selatan akan tetapi setan dari barat hari ini bertemu dengan iblis dari selatan. Huah-hah-hah-hah! Aku mendengar kau yang berjuluk Bu-tek Siu-lam, jangan kau bermain-main seorang diri!” Setelah ber­kata demikian, kaki kiri Siauw-bin Lo mo diangkat dan ditendangkan ke arah pantat Hoan-lokai.

“Bukkk!” Tendangan ini kelihatannya hanya tendangan biasa saja, akan tetapi kelirulah kalau orang mengira demikian, karena tendangan kaki telanjang yang kecil itu mengandung tenaga sakti yang hebat sehingga Hoan-lokai yang ditendang pantatnya itu tiba-tiba merasa betapa serangkum tenaga yang berhawa panas memasuki tubuhnya dan berkumpul di pusar. Sebagai seorang ahli silat tinggi tentu saja Hoan-lokai maklum bahwa ada orang yang membantunya, maka cepat ia mengerahkan tenaga panas itu dari pusar terus ke atas, keluar dari kepalanya untuk melawan gencatan perut Bu-tek Siu-lam yang hebat.

Kaget sekali Bu-tek Siu-lam. Hawa panas yang keluar dari kepala Hoan-lokai itu amat hebat dan kalau ia melawannya keras sama keras, dia terancam bahaya karena perut merupakan bagian tubuh yang lemah dan gawat. Kalau sampai sebuah di antara isi perutnya terluka, hebatlah akibatnya. Tentu saja ia tidak mau mengambil resiko berat ini dan sambil berseru keras ia membusungkan perutnya sehingga tubuh Hoan-lokai bagai­kan sebuah peluru meluncur ke arah manusia kate yang lihai itu.

Sambil tertawa-tawa Siauw-bin Lo­mo menggerakkan tangan kirinya dan sekali tangan ini bergerak entah bagai­mana, tubuh Hoan-lokai yang menyambar ke arahnya itu tiba-tiba membalik dan kini dengan kecepatan yang tak kalah besarnya meluncur dan menyambar kembali ke arah Bu-tek Siu-lam! Kiranya sekarang ternyata bahwa Si Kecil ini sama sekali tidak bermaksud menolong Hoan-lokai, melainkan tadi melalui tubuh Hoan-lokai hendak mencoba-coba kepan­daian Si Iblis Banci! Kasihan sekali nasib Hoan-lokai. Dia boleh jadi tergolong se­orang tokoh yang berkepandaian tinggi di antara para anggauta Hek-coa Kai-pang, akan tetapi di tangan dua orang aneh ini, ia seolah-olah menjadi seekor kelinci di antara dua ekor harimau buas! Sama sekali tidak berdaya dan kepalanya pening pandang matanya berkunang-kunang ketika tubuhnya kini menjadi semacam bola yang ditendang pergi datang oleh hawa pukulan kedua orang aneh itu. Tanpa menyentuh tubuhnya, dua orang aneh itu hanya dengan

Mutiara Hitam 4e

“Nah, kalau benar demikian.” Siang Ki menyambung kata-katanya, kini saya persilakan Ji-wi untuk menguji aku de­ngan ilmu silat itu. Kalau aku dapat memecahkan Khong-sim-kun, jelaslah bahwa hanya ayahku Yu Kang Tianglo yang dapat mengajarkan ilmu itu kepada­ku.”

“Setuju! Baik begitu!” Semua pengemis bersorak. Gak-lokai dan Ciam-lokai juga menjadi girang karena kini terbuka ke­sempatan bagi mereka untuk memuaskan hati mereka dengan menguji sampai di mana kelihaian putera Yu Kang Tianglo ini. Akan tetapi karena kini mereka yakin bahwa pemuda ini adalah putera Yu Kang Tianglo, maka mereka menjadi segan juga. Gak-lokai lalu menjura dan berkata.

“Yu Siauw-pangcu (Ketua Yu Muda) yang memerintah, harap suka maafkan kami dua orang tua berani kurang ajar!”

Yu Siang Ki tertawa. Senang hatinya melihat sikap dua orang yang pernah dipuji ayahnya ini. “Ji-wi harap jangan sungkan-sungkan. Mulailah!”

Gak-lokai dan Ciam-lokai bergerak maju dan benar saja, sebagai pembuka­an mereka telah bergerak seperti yang dilakukan Yu Siang Ki tadi, yaitu tangan kiri menekan dada kiri sedangkan tangan kanan diangkat di atas kepala membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah. Juga pemuda itu melakukan ge­rak yang sama, setelah itu barulah dua orang kakek itu menyerang dengan jurus-jurus yang aneh, namun amat cepat dan menimbulkan angin pukulan halus. Diam-diam Suling Emas memperhatikan dan menjadi kagum. Ilmu Khong-sim-kun yang diciptakan kakek pemuda itu me­mang benar hebat, gerakannya halus dan indah namun mengandung kecepatan ge­rak dan tenaga kuat. Begitu menyaksikan cara pemuda itu menyambut serangan, tahulah Suling Emas bahwa dalam ilmu silat ini, Si Pemuda jauh lebih matang dan sempurna gerakannya daripada kedua orang lawannya. Hal inl adalah karena Gak-lokai dan Ciam-lokai hanya beberapa hari saja berkumpul dengan Yu Kang.

Tianglo sehingga hanya menerima teori dan menerima bimbingan sebentar, se­baliknya Yu Siang Ki berlatih di bawah pengawasan ayahnya, tentu saja gerakannya lebih mahir dan sempurna.

Dua orang kakek itu girang bukan main. Mereka pun tahu bahwa pemuda ini benar-benar mahir Ilmu Silat Khong-sim­-kun dan semua jurus yang mereka ke­luarkan untuk menyerangnya, semua da­pat dikembalikan, ditangkis atau dielak­kan dengan baik sekali. Sampai habis semua jurus Khong-sim-kun mereka jalan­kan dan belum pernah mereka dapat menyentuh tubuh Yu Siang Ki, sebaliknya setiap kali pemuda itu menangkis, tentu tangan mereka terpental dan pangkal lengan mereka terasa kesemutan dan setengah lumpuh. Mereka maklum bahwa kalau pemuda itu menghendaki, dalam beberapa jurus saja mereka tentu akan dapat dirobohkan!

Keduanya lalu melompat mundur, menghadapi para pengemis di bawah panggung dan bersorak, “Saudara-saudara semua! Dia ini betul-betul putera Yu Kang Kai-pangcu! Dialah yang patut menjadi ketua kita!”

Setelah berkata demikian, Gak-lokai dan Ciam-lokai lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Yu Siang Ki sambil berkata, “Yu-pangcu, kami mohon pim­pinan Pangcu!”

Pemuda itu terharu ketika melihat semua pengemis di bawah panggung juga berlutut. Ia tersenyum dan mengangkat bangun Gak-lokai dan Ciam-lokai. “Harap Saudara sekalian jangan terlalu merendah­kan diri. Aku tentu saja suka sekali me­mimpin kalian dan melindungi perkumpulan kita, asal mendapat bantuan Gak-lokai dan Ciam-lokai yang sudah lebih ber­pengalaman.”

Para pengemis bersorak gembira, ada yang menari-nari dan ada yang tertawa­-tawa. Para pimpinan kai-pang yang menjadi tamu segera maju dan memberi hormat serta memberi selamat kepada pangcu baru dari Khong-sim Kai-pang. Timbul harapan mereka bahwa bersama pemuda yang lihai ini mereka akan lebih kuat menghadapi penyelundupan kaum sesat.

“Eh, ke mana dia....?” Tiba-tiba Yu Siang Ki menengok, terkejut karena tidak melihat Suling Emas di belakangnya.

Gak-lokai dan Ciam-lokai juga terke­jut dan heran. “Ke mana perginya Kim-­siauw Taihiap?”

“Lihat itu ada tulisan!” kata pula Yu Siang Ki yang melihat tulisan terukir di atas papan panggung di mana tadi Suling Emas berdiri. Beramai-ramai me­reka mendatangi tempat itu dan pembaca tulisan yang terukir, amat indahnya, agaknya diukir dengan ujung sepatu!

“Selamat kepada pangcu baru,

Suling Emas akan selalu mengamati

dan melindungi dari jauh!”

Mereka menarik napas panjang. Gak-lokai dan Ciam-lokai cepat lari meloncat turun menuju ke kandang kuda, namun kuda kurus tunggangan Suling Emas juga tidak ada pula di situ. Semua orang menjadi makin kagum. Di depan mata sekian banyaknya orang, Suling Emas dapat menghilang begitu saja, bahkan meninggalkan tulisan yang diukir dengan ujung kaki.

Namun di dalam hatinya, Yu Siang Ki, Gak-lokai, dan Ciam-lokai girang ka­rena di dalam tulisan yang ditinggalkan Suling Emas itu, Si Pendekar Sakti menjanjikan pengamatan dan perlindungan, biarpun dari jauh. Hal ini berarti bahwa dalam menghadapi bahaya dan kesukaran, mereka masih dapat mengharapkan ban­tuan pendekar sakti itu. Biarpun di da­lam hatinya Yu Siang Ki berduka sekali karena ia kehilangan Kwi Lan yang pergi secara mendadak, namun sebagai seorang ketua yang amat setia kepada Khong-sim Kai-pang, ia mengesampingkan pera­saan pribadi yang jatuh cinta kepada gadis itu, dan mulailah ia mengatur se­gala usaha dan perbaikan untuk Khong-sim Kai-pang.

***

Suling Emas menarik napas panjang berkali-kali, hanya kecewa dan menyesal karena ia tidak berhasil mengejar gadis yang bernama Kam Kwi Lan itu. Biarpun ia membalapkan kudanya mengejar keempat penjuru, ia tetap saja tak dapat melihat Kwi Lan. Mengertilah ia bahwa gadis itu memang sengaja tidak mau menjumpainya. Ia mengingat-ingat dan mengangguk-angguk. Gadis itu wataknya aneh dan keras sekali. Dan ia memang kurang hati-hati dengan ucapannya tadi. Ia menyuruh gadis itu membuka baju. Tentu saja ia maksudkan agar gadis itu melihat sendiri pada dadanya karena seperti juga Siang Ki, ia tahu bahwa gadis itu menderita luka akibat pukulan rahasia Pak-kek Sian-ong. Gadis itu salah kira, menyangka dia bersikap kurang ajar!

“Hemm, patut menjadi murid Sian Eng.” ia menggereneng. “Akan tetapi wataknya lebih mirip dengan Lin-moi, juga wajah dan bentuk tubuhnya. Heran sekali.... siapakah bocah itu?”

Karena dapat menduga, watak Kwi Lan yang mirip Lin Lin, maka ia tahu bahwa percuma saja mencari terus. Kalau gadis itu tidak mau menjumpainya dan bersembunyi, mana mungkin ia men­cari dan menemukannya? Suling Emas menjalankan kudanya lagi, perlahan-lahan. Ia telah dikenal orang. Rahasianya telah bocor karena munculnya Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Hatinya menjadi risau. Untuk menghilangkan perasaan tidak enak ini ia mengeluarkan sulingnya dan ditiupnya sulingnya itu dan berusaha melenyapkan segala perasaan yang tidak menyenangkan. Namun tetap saja pikirannya tak dapat ia diamkan. Dunia mulai kacau lagi. Orang-orang jahat bermuncul­an. Bahkan dua orang seperti Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong juga mulai main gila di dunia ramai. Bagaimana dia akan dapat menyembunyikan dan mengasingkan diri, berpeluk tangan saja? Tak mungkin, bisik hatinya. Tak mungkin , aku dapat menjadi penonton saja. Haruskah dia turun tangan kembali, seperti dulu-dulu? Haruskah ia mengisi hidupnya dengan pertandingan-pertanding­an lagi? Mengganggu ketenangan dan kesunyian dengan urusan dunia yang tiada habisnya?

Tiba-tiba ia menahan kudanya dan otomatis tangan kirinya menarik sapu­tangan yang tergantung di leher ke atas, menutupi mulut dan hidungnya. Telinga­nya mendengar suara makian dari jauh, dari arah belakangnya.

“Setan biadab, siapa sudi menuruti kehendakmu? Bunuh saja aku!”

“Iblis Khitan, kalau bisa kaucari sen­diri orangnya, mengapa memaksa kami? Kau berani menghina pengemis miskin?”

Itulah suara Gak-lokai dan Ciam-lo­kai! Biarpun ia tidak menengok dan tidak melihat, namun telinganya mendengar betapa dari belakang terdapat dua orang yang mendatangi dengan ilmu lari cepat yang amat hebat. Ia terkejut dan tadinya ia mengira tentu Lam-kek Sian-ong dan Pak-kek Sian-ong yang datang, akan te­tapi kalau mereka, mengapa suara ma­kian Ciam-lokai tadi menyebut-nyebut iblis Khitan? Suling Emas lalu memutar kudanya dan karena harus siap menjaga kalau yang datang betul Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, maka masih memegang suling di tangan kanannya.

Akan tetapi setelah kini ia memutar kuda, ia terheran-heran. Yang datang berlari cepat sekali adalah dua orang Khitan, dua orang kakek yang datang membawa Gak-lokai seperti orang me­nenteng kelinci saja. Dua orang kakek pengemis yang cukup lihai itu diceng­keram punggung bajunya dan sama sekali tidak dapat melepaskan diri. Ini saja sudah membuktikan betapa lihainya dua orang Khitan itu. Suling Emas diam-diam terkejut. Bukan terkejut melihat kelihai­an mereka karena ia pun maklum bahwa banyak orang-orang kuat di Khitan. Akan tetapi ia terkejut karena melihat bahwa yang datang ini bukan orang sembarang­an, melainkan dua orang yang berpangkat tinggi dalam ketentaraan, dua orang panglima! Hal ini dapat dilihat dari pa­kaiannya. Para panglima Khitan dapat dikenal dari tanda sulaman bundar di dada mereka. Dua orang kakek ini pada dadanya terdapat gambar pilar besar, berarti bahwa mereka adalah panglima-panglima benteng. Hemm, kalau Lin Lin sampai mengutus panglima-panglimanya datang, berarti Ratu Khitan itu tidak main-main lagi, tidak sekedar rindu dan mengundangnya begitu saja!

Setelah dua orang panglima Khitan itu tiba dekat, Gak-lokai berkata sambil memandang Suling Emas, “Taihiap, bukan kami yang menunjukkan tempat Taihiap, melainkan kami dibawa dengan paksa oleh dua ekor monyet Khitan ini!”

Suling Emas berkata dari balik sapu­tangannya, suaranya perlahan dan halus, namun berpengaruh, “Sepanjang penge­tahuanku, Panglima-panglima Khitan adalah orang-orang yang berkepandaian ting­gi dan juga menjunjung keadilan dan ke­gagahan. Mengapa mengganggu pengemis-pengemis seperti kami? Apakah Khitan sudah melupakan persahabatan dan hen­dak mengganas di selatan?”

Muka kedua orang panglima Khitan itu menjadi merah karena teguran itu langsung menusuk hati mereka. Sejenak mereka saling pandang dengan sangsi karena mereka sendiri pun tidak tahu apakah benar orang berkuda yang menu­tupi mukanya itu adalah orang yang dicarinya. Namun, karena perintah dari atasan mereka menyatakan bahwa orang yang dicarinya itu menyamar sebagai pe­ngemis dan berada di antara para penge­mis Khong-sim Kai-pang, serta memiliki seekor kuda merah yang kurus kering, hilang keraguan mereka.

Seorang di antara mereka berkata, “Maafkan jika terpaksa kami menangkap dua manusia bandel ini, karena dimintai tolong menunjukkan tempat Taihiap me­reka tidak mau malah memaki-maki. Taihiap, jauh-jauh kami datang sengaja untuk menemui Taihiap, menempuh perja­lanan ribuan li, mengalami segala macam kesukaran dan rintangan. Sama sekali bukan maksud kami untuk mengganggu saudara-saudara kai-pang. Hanya dua orang manusia ini terlalu bandel tidak suka membantu.”

“Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, tak pernah saling ber­temu dan tidak saling mengenal. Menga­pa kalian bersusah payah mencariku?”

Pangllma yang bicara tadi mengambil sesuatu dari sakunya, kemudian berkata.

“Kami datang sebagai utusan ratu kami untuk menyampaikan surat ini ke­pada Taihiap. Harap Taihiap sudi mene­rimanya!”. Setelah berkata demikian, ta­ngannya yang memegang surat itu berge­rak menyambit dan gulungan surat itu bagaikan peluru menyambar ke arah Su­ling Emas.

Suling Emas mengerti bahwa tidak perlu ia berpura-pura terus. Sambitan itu saja sudah merupakan ujian karena tidak sembarang orang dapat menyambit seper­ti itu dan tidak sembarangan orang pula dapat menerimanya. Ia mengangsurkan tangan kiri, dengan tenang ia menangkap gulungan surat itu. Tubuhnya sedikit pun tidak bergoyang dari atas panggung ku­danya.

Dua orang panglima itu memandang penuh kekaguman dan panglima yang me­nyambitkan gulungan surat berkata, “Ter­nyata tidak keliru dugaan kami. Kami telah melaksanakan tugas kami. Maafkan kami, sobat-sobat yang bandel dan se­lamat tinggal, Taihiap!” Mereka berdua melepaskan cengkeraman pada punggung baju dua orang kakek pengemis itu, ke­mudian membalikkan tubuh dan berlari cepat pergi meninggalkan tempat itu.

“Berbahaya sekali! Mereka itu memi­liki kepandaian yang hebat. Mengapa Taihiap selalu diganggu orang-orang Khitan?” tanya Ciam-lokai terheran-he­ran. Ini adalah pengalamannya yang dua kali melihat Suling Emas dikejar-kejar orang Khitan.

Suling Emas tersenyum. “Urusan pri­badi, Lo-kai. Maafkan kalau kalian sam­pal terbawa-bawa.”

“Adakah sesuatu yang dapat kami la­kukan untuk membantumu, Taihiap?” tanya Gak-lokai ketika melihat wajah pendekar itu agak pucat.

Suling Emas mengerutkan kening. Ia tadi kecewa karena tak dapat mencari Kwi Lan, maka kini ia berkata. “Memang kalian dapat membantuku. Harap kalian sampaikan kepada Pangcu kalian agar suka mengutus anak-anak buahnya untuk menyelidiki dan mencari kemana perginya gadis yang berjuluk Mutiara Hitam itu. Kalau berhasil, harap memberi kabar kepadaku. Aku akan berada di kota raja.”

Dua orang kakek pengemis itu me­nyanggupi dan mereka lalu berpisah. Se­telah Gak-lokai dan Ciam-lokai pergi, Suling Emas menjalankan kudanya perla­han-lahan sambil melepas tali pengikat gulungan kertas. Hatinya berdebar keras. Surat dari Lin Lin? Apa kehendaknya? Jari-jari tangannya agak gemetar ketika ia membentangkan kertas itu di depan­nya, sedangkan kudanya masih jalan terus perlahan-lahan seenaknya. Surat itu ter­nyata singkat namun mengandung gam­baran hati yang penuh rindu dan risau.

Kakanda Kam Bu Song,

Terlalu lama saya menanggung de­rita batin. Terlalu lama menyim­pan rahasia besar. Tak tertahankan lagi. Lekas datang ber­kunjung.

YALINA

Suling Emas menghela napas panjang dan menyimpan gulungan surat di saku baju sebelah dalam. Apakah yang dike­hendaki Lin Lin? Rahasia besar apakah yang dimaksudkannya? Bukankah sudah tepat kalau ia meninggalkan Lin Lin, seperti juga ia meninggalkan Suma Ceng?”

Ah, hidupnya yang lalu dirusak oleh asmara gagal. Bukan ia tidak mera­sa rindu kepada Lin Lin, hanya ia sengaja hendak menghapus perasaan itu meng­ingat akan kedudukan Lin Lin sebagai Ratu Yalina di Khitan. Untuk apa dia mengganggu dan merusak nama baik se­orang ratu besar? Inilah yang meragukan hatinya sehingga ia tidak berani berkun­jung ke Khitan. Sekarang pun ia tidak ingin berkunjung, bahkan hendak pergi ke kota raja Sung, untuk menemui Liong­ ji (Anak Liong). Ya, kini hanya pemuda putera Suma Ceng itulah yang menjadi harapannya. Kiang Liong adalah pemuda puteranya. Anak Suma Ceng, menggunakan she Kiang menurut nama keluarga Pangeran Kiang suami Suma Ceng, akan tetapi Kiang Liong adalah puteranya! Dan semenjak kecil, ia seringkali berkun­jung secara diam-diam dan menurunkan ilmunya kepada Kiang Liong yang meng­anggapnya sebagai gurunya. Sekarang pun ia hendak pergi ke kota raja untuk ber­kunjung kepada murid dan juga puteranya itu, karena sudah merasa rindu? Akan tetapi surat Lin Ling yang baru saja diterimanya membuat hatinya bimbang.

Ah, betapa pahit semua kenyataan itu. Lin Lin adalah seorang wanita yang di­cintanya, bahkan bukan hanya menjadi kekasih biasa, melainkan menjadi isteri selama sebulan, isteri yang tidak sah! Terpaksa ia harus merenggutkan cinta kasih, merobek hati sendiri demi kedudukan Lin Lin sebagai seorang ratu! Dan terhadap Kiang Liong, biarpun ia tahu bahwa anak itu adalah puteranya sendiri, ia tidak berani mengakuinya dan oleh pemuda itu ia hanya dianggap sebagai guru! Hal ini ia lakukan demi menjaga nama baik Suma Ceng, juga nama baik anak itu sendiri sebagai putera pangeran! Benar-benar ia banyak menderita batin, namun pengorbanan-pengorbanan itu harus ia lakukan demi orang-orang yang ia cinta!

Senja hari di malam tahun baru. Un­tuk kedua kalinya dalam beberapa bulan itu, puncak Cheng-liong-san yang biasanya sunyi sepi itu kini ramai dikunjungi orang. Akan tetapi tidak seperti dahulu pada pertama kalinya, kini kaum sesat dengan pasukan-pasukannya yang datang berbondong-bondong, tidak langsung naik ke puncak, melainkan bergerombol dan ber­kumpul menjadi beberapa kelompok di le­reng gunung. Puncak Cheng-liong-san tetap sunyi. Siapakah berani lancang naik ke puncak sebelum datuk-datuk yang mereka pilih tiba? Hari itu adalah hari penentuan, hari pertemuan para datuk kaum sesat yang dipilih oleh golongan masing-masing untuk menentukan siapa di antara me­reka yang patut dipilih menjadi bengcu atau pemimpin besar kaum sesat.

Datuk pertama yang muncul di pun­cak adalah seorang yang amat aneh. Dia berjalan seorang diri, mendaki puncak sambil bernyanyi-nyanyi. Nyanyinya amat aneh pula, dengan kata-kata asing yang lucu, sedangkan lagunya juga lucu sekali, sehingga suaranya yang bergema di se­luruh lembah dan terdengar oleh para kaum sesat, membuat mereka terheran-heran dan tersenyum-senyum geli. Suara tinggi kecil seperti suara perempuan. Kalau tidak melihat orangnya, mendengar suaranya tentu orang mengira dia seorang wanita. Akan tetapi ternyata dia itu seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap, dengan tubuh berotot dan sepa­tutnya ia seorang laki-laki yang memiliki tubuh gagah. Wajahnya tampan sekali, dengan hidung yang agak terlalu mancung dan mata yang warna hitamnya tercampur biru, kulitnya putih halus seperti kulit wanita, rambutnya panjang dibiar­kan terurai di belakang punggung. Dan lenggangnya, lenggangnya genit dan lemah-gemulai seperti lenggang seorang wanita berpantat besar yang genit sekali. Bibirnya yang terlalu manis bentuknya untuk seorang pria itu selalu tersenyum-senyum dan bergerak-gerak dibuat-buat agar nampak makin manis. Pakaiannya juga aneh, amat mewah terbuat dari sutera beraneka warna yang halus, leher­nya digantungi kalung permata yang be­sar-besar. Kuku jari-jari tangannya runcing terpelihara dan diberi merah-merah! Inilah dia Bu-tek Siu-lam, datuk yang di­pilih para pengemis untuk menjadi beng­cu. Julukan Siu-lam (Laki-laki Tampan) memang ada benarnya, hanya sayang ketampanannya itu membuat ia menjadi genit seperti perempuan, beraksi seperti perempuan dan tingkah lakunya tiada be­danya dengan seorang wadam (banci). Sebuah gunting besar yang mengkilap putih terselip di pinggangnya.

Setelah tiba di puncak, Bu-tek Siu-lam menghentikan nyanyiannya, meman­dang ke kanan kiri lalu berdongak ke atas. Mulutnya terbuka dan terdengarlah suara suitan yang keras sekali sehingga mengumandang ke seluruh lembah dan lereng gunung. Suitan panjang ini disusul suaranya yang merdu dan kecil namun nyaring sekali.

“Heiiii! Mana dia iblis-iblis palsu dari empat penjuru yang katanya hendak beraksi? Kalau benar bisa menandingi Bu-tek Siu-lam, aku rela menganggapnya se­bagai bengcu dan bersahabat dengannya, hi-hi-hik!” Setelah berkata demikian, Bu-tek Siu-lam yang sukar ditaksir berapa usianya ini berdiri dengan tubuh digerak-gerakan kemayu!

Mendengar suara datuk mereka ini, rombongan pengemis yang dipimpin oleh Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai­-pang mulai berani mendaki puncak, akan tetapi mereka ini pun hanya berkumpul di bawah puncak dari mana mereka da­pat memandang datuk mereka dengan penuh harapan. Di antara kaum sesat yang berkumpul disekitar Pegunungan Cheng-liong-san, terdapat pula puluhan orang yang datang hanya karena tertarik hatinya dan ingin menonton apa sesungguhnya yang menyebabkan banyak sekali orang mendatangi bukit yang sunyi itu. Mereka ini adalah orang-orang petani, beberapa orang pe­lancong dan ada juga beberapa orang kang-ouw yang menjadi ingin tahu sekali. Ketika rombongan pengemis mulai men­daki bukit, orang-orang ini yang tidak tahu akan bahaya dan sama sekali tidak tahu dan tidak mengenal orang aneh di atas puncak, ikut pula naik untuk menonton.

Kedatangan rombongan bukan penge­mis ini tak terlepas dari pandangan mata Bu-tek Siu-lam yang tajam. Ia segera menghadap ke arah tiga puluh lebih orang-orang yang ingin menonton itu, lalu berkata, suaranya manis sekali terdengarnya, sungguhpun dengan dialek asing.

Mutiara Hitam 4d

Untuk menguji Iwee-kang Yu Siang Ki, Suling Emas menempelkan kedua tangannya di pundak pemuda itu sambil membentak. “Tak usah berlutut!” Pende­kar sakti ini mengerahkan sinkang yang disalurkan di kedua tengannya.

Yu Siang Ki terkejut ketika merasa betapa pundaknya seakan-akan ditindih dua buah gunung, kemudian tenaga raksa­sa membetotnya ke atas. Ia mengerling ke atas dan melihat wajah yang terse­nyum-senyum itu maklumlah ia bahwa Suling Emas sedang mengujinya. Maka ia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga sehingga biarpun tubuhnya terbetot dan tertarik ke atas, namun ia masih dalam keadaan berlutut!

“Bagus! Engkau patut menjadi putera Saudara Yu Kang Tianglo!” kata Suling Emas sambil melepaskan kedua tangan­nya. Pemuda itu melompat dan berdiri di depan Suling Emas dengan muka agak pucat dan bibir menyeringai menahan takut. Suling Emas terkejut sekali, tangan kirinya bergerak cepat dan.... “brettt!” baju Siang Ki sudah robek memperlihat­kan pundak kirinya. Ternyata benar se­perti dugaannya, di situ terdapat tanda menghitam seperti tapak jari tangan!

“Hemm, kau terkena hawa pukulan jarak jauh yang amat berbahaya. Berpu­tarlah kau dan jangan melawan!”

Yu Siang Ki tadinya terkejut dan heran ketika ia mengerahkan Iwee-kang untuk menahan ujian, ia merasa betapa dada kirinya sakit seperti ditusuk-tusukjarum. Ia makin terkejut ketika tiba­-tiba Suling Emas merobek bajunya, akan tetapi kini ia merasa bersyukur. Sebagai seorang ahli silat tinggi, tentu saja ia sudah dapat menduga bahwa kakek putih yang sakti tadi ternyata telah melukainya dengan pukulan jarak jauh yang membuat ia terdorong dan terhuyung ke belakang tadi. Maka tanpa banyak pikir lagi ia lalu memutar tubuh membelakangi Suling Emas, melepaskan seluruh urat dan tena­ganya sedikit pun tidak melakukan perla­wanan. Pada saat itu ia merasa betapa pundak kiri dan punggungnya ditotok kemudian telapak tangan yang amat pa­nas seperti membara menempel di punggungnya.

“Sekarang bernapaslah panjang-panjang dan rasakan apakah masih sakit.”

Yu Siang Ki menarik napas panjang, hatinya girang sekali karena dada kirinya sudah tidak sakit lagi. Ia mengge­leng kepala dan berkata. “Sudah tidak terasa apa-apa lagi, Paman.”

Suling Emas melepaskan tangannya dan menghela napas. “Sungguh berbahaya Pak-kek Sian-ong, tangannya masih keji! Akan tetapi bahayanya sudah lewat, ha­nya perlu memulihkan tenaganya. “He, Nona, ke sinilah engkau!” Tiba-tiba Suling Emas memanggil dan menggapai ke arah Kwi Lan.

Ketika Kwi Lan tadi melihat betapa Yu Siang Ki disembuhkan dari lukanya oleh Suling Emas dengan tenaga sin-kang, ia tercengang. Kemudian ia tersenyum girang. Kiranya kakek muka putih tadi lihai sekali sehingga dorongannya dari jarak jauh telah melukai Yu Siang Ki. Akan tetapi ia tidak terluka! Dan hal ini berarti bahwa dia lebih kuat daripada pemuda itu, lebih lihai! Ketika Suling Emas memanggilnya, sambil tersenyum ia menghampiri dan menyimpan pedangnya. Memang ia pun ingin sekali bicara de­ngan Suling Emas yang ia kagumi. Ingin bicara tentang Sang Ratu Khitan, ibu kandungnya!

Begitu Kwi Lan melangkah maju de­ngan mata bersinar, wajah berseri dan bibir tersenyum, Suling Emas memandang seperti orang terpesona. Dadanya berdenyut keras dan seketika teringatlah ia kepada Lin Lin atau Yalina, kekasihnya. Gadis ini sama benar dengan kekasihnya itu! Seperti itu pula Lin Lin dahulu mengangkat muka dengan leher panjang lurus, dada dibusungkan, pandang mata penuh ketabahan dan semangat. Seperti itu pula lenggang Lin Lin yang halus gemulai namun membayangkan kegagah­an. Dan senyum itu! Senyum nakal dan aneh, pembawaan dari suku bangsanya yang asing, suku bangsa Khitan!

Gadis itu sudah berdiri dekat di de­pannya, namun Suling Emas masih me­mandang, merasa seperti dalam mimpi. Ia melihat Lin Lin muda kembali, menja­di gadis remaja!

Melihat keadaan Suling Emas ini, Kwi Lan memperlebar senyumnya, merasa lucu dan aneh. Dilihat sikapnya, pende­kar sakti yang berjuluk Suling Emas ini tiada ubahnya dengan laki-lakl biasa, yang selalu memandangnya dengan sikap tertarik seperti itu. Akan tetapi sinar matanya lain daripada laki-laki yang lain. Sinar mata yang terpancar keluar dari sepasang mata yang sayu sedih itu, tidak mengandung nafsu seperti pada laki-laki lain, melainkan penuh pertanyaan dan keheranan bukan kekaguman dan bukan pula gairah.

“Jadi engkau inikah orangnya yang berjuluk Suling Emas? Sudah banyak ku­dengar tentang dirimu dari Yu Siang Ki. Memang aku ingin sekali jumpa dengan­mu, banyak hal yang hendak kutanyakan. Suling Emas, di manakah kita dapat bicara dengan enak dan leluasa? Kuharap engkau tidak akan merasa keberatan....!”

“Engkau anak siapa? Siapa Ibumu?” Pertanyaan ini keluar dari mulut Suling Emas secara otomatis seperti di luar ke­sadarannya dan terdengar keras seperti bentakan sehingga semua orang yang mendengar mengira bahwa pendekar itu menjadi marah-marah.

Kwi Lan tersentak kaget, keningnya berkerut, matanya memandang tajam. Apa maksud pendekar ini? Mengapa be­gitu jumpa, terus saja bertanya siapa ibunya? Kwi Lan adalah seorang gadis yang amat cerdik. Pertanyaan yang membingungkan semua orang ini sudah dapat diduga maksudnya dalam sekejap mata oleh Kwi Lan. Ia sudah mendengar bahwa orang ini, Suling Emas adalah kakak angkat Ratu Yalina, dan mungkin sekali, kalau tidak hisapan jempol belaka percakapan antara kaum sesat, di antara kakak dan adik angkat ini terjalin kasih sayang. Kalau betul demikian, agaknya kini Suling Emas terkejut melihat dia dan tentu saja hanya satu hal yang me­nyebabkannya, yaitu bahwa dia tentu mirip dengan ibunya di waktu masih muda! Ia tidak meragukan keterangan bibi dan gurunya, bahwa Ibu kandungnya adalah Ratu Yalina.

“Kau tanya namaku? Seperti engkau, namaku hanya nama julukan. Mutiara Hitam! Tentang Ibuku.... aku sendiri ti­dak tahu....”

Mendengar jawaban ini, Suling Emas baru sadar betapa tidak pantasnya per­tanyaannya tadi. Wajahnya menjadi me­rah sekali dan ia cepat berkata. “Nona, kaubukalah baju bagian dadamu!”

Kini wajah Kwi Lan yang menjadi merah sekali, merah karena marah. Sepa­sang matanya memancarkan kemarahan, sinarnya menyambar wajah Suling Emas dan tangan kanannya bertolak pinggang, telunjuk kiri menuding ke arah hidung Suling Emas sambil mulutnya membentak.

“Apakah kaukira setelah kau bernama Suling Emas dan terkenal sebagai pen­dekar besar yang sakti, boleh saja eng­kau menghina seorang seperti aku? Cih, manusia kurang ajar tak tahu malu!” Setelah berkata demikian, ia membanting kakinya dengan gemas kemudian sekali bergerak, tubuhnya sudah melayang turun dari atas panggung.

“Kwi Lan....! Kwi Lan, kembalilah! Engkau hendak ke mana....?” Yu Siang Ki berseru memanggil.

Kwi Lan tidak menoleh, hanya men­jawab dengan suara menyatakan kekesal­an hatinya. “Aku pergi, uruslah dunia pengemismu, sampai jumpa!”

“Kwi Lan....!” Yu Siang masih berusa­ha menahan.

“Percuma, gadis seperti dia itu tak mungkin mau dicegah kehendaknya....!” Suling Emas berkata lirih dan berkali-kali pendekar ini menarik napas panjang dan berkata. “ aneh.... benar aneh....,” Di dalam hatinya ia benar-benar makin heran menyaksikan sikap gadis pemarah itu yang sama dengan watak Lin Lin. Kemudian ia bertanya kepada Yu Siang Ki, “Kwi Lan namanya? Mutiara Hitam? Dari manakah datangnya? Ilmunya he­bat....“

“Entahlah, Paman. Saya bertemu di tengah jalan, dia sebatangkara namanya Kwi Lan dan shenya Kam....”

“Heh....?” Suling Emas benar-benar terkejut, memandang wajah tampan itu dengan mata penuh selidik.

“Benar, Paman. Ketika pertama kali mendengar saya pun terkejut dan melihat kelihaiannya, saya mengira dia mempu­nyai hubungan keluarga dengan Paman. Akan tetapi ternyata bukan dia.... dia bahkan tidak tahu siapa orang tuanya. Kiranya, semenjak bayi dia dirawat gurunya yang ia sebut-sebut Bibi Sian.”

Suling Emas berdiri tegak seperti arca. Penuturan singkat tentang gadis itu membuat pikirannya melayang-layang dan mengenangkan masa lalu. Bibi Sian? Kalau gadis yang sama benar wajah dan watak­nya dengan Lin Lin itu puteri Lin Lin, memang dia mempunyai seorang “Bibi Sian”, yaitu Kam Sian Eng! Dan ilmu ke­pandaian Sian Eng memang hebat luar biasa,” karena Sian Eng telah mewarisi pusaka ibu kandungnya, Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian (baca cerita CINTA BERNODA DARAH)! Benarkah sangkaannya ini? Akan tetapi, ahh.... mana mungkin Lin Lin mempunyai puteri? Ia hanya mendengar bahwa sampai kini, Lin Lin yang kini menjadi Ratu Yalina di Khitan, tidak pernah menikah dan hanya mempunyai seorang putera angkat, yaitu anak pang­limanya sendiri yang setia, Kayabu.

Pada saat itu, Gak-lokai dan Ciam-lokai sudah meloncat ke atas panggung. Tadi ketika semua orang mendengar bah­wa orang yang mereka sangka Yu Kang Tianglo itu ternyata palsu dan Suling Emas adanya, mereka menjadi gaduh dan ramailah mereka mengeluarkan pendapat masing-masing. Gak-lokai dan Ciam-lokai segera merundingkan hal itu dengan anak buahnya. Mereka kini sudah mendengar bahwa Yu Kang Tianglo telah meninggal dunia dan karena mereka tahu bahwa Suling Emas dahulu sahabat baik Yu Kang Tianglo, maka mereka tidak akan menuntut, bahkan berterima kasih. Apa­lagi di situ ada terdapat pemuda lihai yang mengaku putera Yu Kang Tianglo, hal ini harus dibuktikan lebih dahulu kebenarannya. Setelah mendapat persetuju­an rekan-rekan mereka, dua orang kakek pengemis itu lalu melompat ke atas panggung. Langsung mereka berdua menghadapi Suling Emas dan memberi hormat.

“Kiranya Taihiap (Pendekar Besar) yang semenjak dahulu telah menjadi sa­habat baik para kai-pang. Harap Taihiap sudi memaafkan kesalahan kami yang menyangka Taihiap Yu Kang Tianglo.” kata Gak-lokai.

Suling Emas balas menjura dah me­narik napas panjang. “Sama-sama salah, Lokai. Aku pun bersalah, telah berani mengaku sebagai Yu Kang Tianglo. Syu­kurlah kalian semua percaya bahwa per­buatanku ini sama sekali bukan untuk merampas kedudukan, melainkan untuk mewakili sahabatku itu membersihkan Khong-sim Kai-pang. Sekarang rahasiaku telah terbuka, dan kebetulan sekali mun­cul putera Yu Kang Tianglo ini yang bernama Yu Siang Ki. Melihat kepandai­annya, kiranya tidak ada orang lain yang tepat untuk memimpin Khong-sim Kai-pang dan bersama kai-pang-kai-pang lain bersatu menghadapi ancaman kaum se­sat.”

“Ucapan Taihiap tepat sekali dan kami bergembira bertemu dengan putera Yu Kang Kai-pangcu, sungguhpun merasa sedih mendengar berita kematiannya.

Akan tetapi, Taihiap, siapakah berani tanggung bahwa orang muda ini benar-benar putera Yu Kang Tianglo yang su­dah puluhan tahun tiada berita?” kata Ciam-lokai.

“Pendapat rekan Ciam-lokai benar. Kalau yang memalsukan nama Yu Kang Tianglo itu Taihiap, hal ini masih tidak ada buruknya, bahkan lebih baik mengingat bahwa Taihiap seorang pendekar sakti yang selalu membela kaum lemah. Akan tetapi kalau sampai dipalsukan orang lain yang kemudian menyelewengkan kai-pang seperti hannya lima pangcu yang telah tewas di tangan Taihiap, bukankah hal ini akan menimbulkan malapetaka? Ka­rena itu, kami minta bukti dari orang muda ini bahwa dia betul-betul putera Yu Kang Tianglo!”

“Bagus....! Benar sekali....!” Ter­dengar para pengemis berteriak-teriak.

Suling Emas hanya memandang kepada Yu Siang Ki. Di dalam hatinya ia perca­ya kepada pemuda ini yang dapat ia nilai kejujuran dan kesetiaannya dari sikap dan sepak terjangnya tadi. Akan tetapi ia pun tidak berani memastikan apakah pemuda ini benar-benar putera Yu Kang Tianglo, karena ketika bertemu dengan tokoh pengemis itu, dahulu Yu Kang Tianglo tidak menyebut-nyebut tentang keadaan keluarganya. Oleh karena inilah, ia diam saja dan menyerahkan kepada Yu Siang Ki sendiri untuk membuktikan ke­benaran pengakuan sebagai putera Yu Kang Tianglo.

Pemuda itu dengan sikap tenang, tanpa ragu-ragu menghadapi Cak-lokai dan Ciam-lokai sambil berkata.

“Kalau saya tidak salah duga, Ji-wi (Anda Berdua) tentulah Gak-lokai dan Ciam-lokai. Ayah pernah menyebut nama Ji-wi kepada saya. Apa yang Ji-wi kemu­kakan tadi memang benar. Saya harus dapat membuktikan bahwa saya Yu Siang Ki, benar-benar adalah putera tunggal Yu Kang Tianglo. Saya mempunyai tiga ma­cam bukti, harap Ji wi dan semua Sau­dara anggauta Khong-sim Kai-pang, mendengar dan menyaksikannya!”

Yu Siang Ki berhenti sejenak, ke­mudian ia berkata lagi dengan suara lan­tang sambil menggerakkan kedua tangan­nya, yang kiri menekan di dada kiri arah tempat jantung dan tangan kanan diang­kat ke atas membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah. “Beginilah tanda rahasia perkumpulan kita Khong-sim Kai-pang! Kakekku, Yu Jin Tianglo, yang menciptakan tanda rahasia ini. Bukan hanya sekedar tanda, melainkan memiliki tiga kegunaan, yaitu pertama sebagai tanda pengenal sesama anggauta. Kedua mempunyai arti yaitu Kosong dan Hati, sesuai dengan nama perkumpulan kita, Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Penge­mis Hati Kosong). Kosong adalah kosong lahir batin. Lahirnya kosong dan miskin tidak memiliki apa-apa, dalamnya juga kosong dan polos tidak mempunyai watak dan pikiran kotor. Adapun hati dimaksud­kan bahwa setiap anggauta harus memiliki hati yang bersih dan penuh kesetiaan terhadap perkumpulan. Kemudian arti ke tiga dan hal ini hanya dikenal oleh para pimpinan Khong-sim Kai-pang, yaitu ge­rakan ini adalah jurus pembukaan dari­pada ilmu silat yang harus dimiliki oleh para pimpinan Khong-sim Kai-pang. Nama Ilmu silatnya pun Khong-sim-kun (Ilmu Silat Hati Kosong)!”

Mendengar ini, berisiklah semua pe­ngemis dan semua terheran-heran. Yang sudah tahu jelas akan arti tanda rahasia mereka itu, mengangguk-angguk membe­narkan, yang belum tahu kini menjadi tahu dan tercengang, tidak mengira bah­wa tanda rahasia itu mempunyai arti yang begitu luas.

“Sekarang bukti ke dua bahwa saya adalah putera tunggal Yu Kang Tianglo. Mungkin di antara saudara anggauta Khong-sim Kai-pang tidak ada yang me­ngetahui siapa nama Gak-lokai dan Ciam-lokai! Adakah di antara saudara yang mengetahui nama mereka berdua?”

Yu Siang Ki menanti sampai bebera­pa lama. Para pengemis itu kembali berisik sekali sehingga keadaan di situ menjadi seperti pasar. Namun tidak ada yang tahu akan nama dua orang tokoh yang selalu hanya dikenal sebagai Gak­-lokai dan Ciam-lokai saja. Kemudian terdengar suara mereka. “Tidak ada yang tahu....!”

Yu Siang Ki menjura kepada Gak­-lokai dan Ciam-lokai. “Maafkan saya, Ji ­wi Lokai, untuk menjadi bukti, terpaksa saya memperkenalkan nama Ji wi.” Ke­mudian pemuda ini menghadapi para pengemis dan berkata lantang. “Men­diang Ayah pernah mengatakan bahwa di antara para tokoh Khong-sim Kai-pang, yang boleh saya percaya adalah dua orang yaitu Paman Gak Lun dan Paman Ciam Hie inilah!”

Dua orang lokai itu saling pandang dengan muka pucat. Sudah puluhan tahun mereka tidak pernah memperkenalkan nama, bahkan tidak pernah ada yang menyebut nama mereka. Memang hanya Yu Kang Tianglo yang mereka beritahu ten­tang nama mereka.

Kembali para pengemis menjadi beri­sik, bahkan ada yang bersorak karena kedua orang lokai itu sama sekali tidak membantah. Hal ini hanya berarti bahwa bukti ke dua ini pun cocok.

“Sekarang bukti ke tiga. Seperti ku­katakan tadi, setiap pimpinan Khong-sim Kai-pang tentu diberi pelajaran Ilmu Silat Khong-sim-kun. Ayah pernah bercerita bahwa pada masa ini, di antara semua anggauta Khong-sim Kai-pang, ha­nya Gak-lokai dan Ciam-lokai berdua sajalah yang faham akan ilmu silat itu, karena dahulu ketika Ayah datang ke sini untuk memimpin saudara-saudara meng­hadapi Pouw Kai-ong, sebelum Ayah per­gi lagi Ayah telah menurunkan Ilmu itu kepada dua orang tua ini. Benarkah ti­dak, Ji-wi Lokai?”

Gak-lokai dan Ciam-lokai berseri-seri wajahnya dan mengangguk-angguk. Kini mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda yang tahu semua kejadian rahasia ini tentulah benar putera Yu Kang Tianglo. Akan tetapi mereka masih belum puas. Kalau ketua mereka selihai Suling Emas, hati mereka akan menjadi lega. Akan tetapi Yu Siang Ki masih amat muda. Biarpun tadi kelihatan kelihaiannya, bahkan dipuji oleh Suling Emas, namun cukup kuatkah pemuda ini menjadi ketua kai-pang yang kini menghadapi banyak musuh tangguh?