penginapan sedangkan tujuh orang pendekar itu sudah kembali ke kamar masing-masing dan
menutupkan daun pintunya.
"Ah, ada.. Ada, Kongcu. Akan tetapi, itu adalah kamar-kamar kecil di sebelah belakang, dahulu
menjadi kamar pelayan, tidak berani saya menawarkannya kepada Kongcu..."
Kwee Seng tersenyum. "Tidak mengapa, Lopek. Malam sudah begini larut, mencari kamar di
penginapan lain pun repot. Biarlah aku bermalam di kamar pelayan itu."
Dengan tergopoh-gopoh pengurus penginapan itu lalu mendahului Kwee Seng sambil membawa sebuah
lampu, mengantar tamunya ke sebuah kamar yang berada jauh di ujung belakang. Benar saja, kamar ini
kecil, hanya terisi sebuah pembaringan bambu yang setengah reyot, lantainya tidak begitu bersih pula.
"Ah, cukup baik !" seru Kwee Seng sambil menaruh bungkusan pakaiannya di atas pembaringan. "Tidak
usah kau tinggal lampumu, Lopek aku biasa tidur gelap. "Ia menjatuhkan dirinya di atas pembaringan
yang mengeluarkan bunyi berkereotan.
Pengurus penginapan itu keluar dari dalam kamar membawa lampunya sambil menggeleng-geleng kepala
saking heran melihat seorang kongcu berpakaian indah itu kelihatannya sudah tidur pulas begitu tubuhnya
menyentuh pembaringan, ia menutupkan daun pintu perlahan-lahan.
Sebentar kemudian sekeliling tempat penginapan sunyi. Pengurus dan penjaga pun sudah tidur . Yang
terdengar hanya dengkur yang keras dari kamar pemuda tinggi besar. Dari beberapa buah kamar lain
terdengar suara orang mengigau menyebut-nyebut nama Liu Lu Sian. Bahkan dalam mimpi
pemuda-pemuda ini selalu merindukan Lu Sian!
Suara mengigau ini keluar dari kamar pemuda anak murid Kun-lun-pai. Tiba-tiba sebagai seorang ahli
silat, pemuda tampan itu meloncat turun dari pembaringannya ketika pendengarannya, atau agaknya lebih
tepat indera keenamnya, mendengar suara yang mencurigakan.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Dalam meloncat tadi sekaligus ia telah mencabut pedangnya, dan sekali menggoncang kepalanya
lenyaplah semua kantuk dan ia sudah berada dalam posisi siap siaga, sepasang matanya melirik ke arah
jendela kecil kamarnya. Tiba-tiba jendela itu terbuka daunnya dari luar, dan muncullah seorang laki-laki
jangkung yang berusia empat puluh tahun lebih, bertangan kosong. Orang ini memasuki kamar melalui
jendela dengan gerakan ringan dan sikap tenang saja.
"Siapa kau ? Mau apa..."
"Mau membunuhmu. Manusia macam kau berani menyebut-nyebut peteri Beng-kauwcu harus mampus
!" berkata bayangan laki-laki itu dengan suara mendesis, lalu menerjang maju.
Pemuda Kun-lun-pai itu tentu saja tidak menjadi gentar biarpun ia merasa kaget sekali. Pedangnya
berkelebat dan bergulung-gulung sinarnya di depan dada bermaksud melindungi dirinya saja terhadap
orang yang agaknya gila ini. Akan tetapi, tiba-tiba sekali gerakan pedangnya berhenti seakan- akan
tertahan oleh tenaga yang tak tampak dan sebelum pemuda Kun-lun-pai ini tewas seketika tanpa dapat
bersambat lagi !
Suara mendengkur dari kamar si Tinggi Besar terhenti seketika. Jagoan bertenaga gajah ini pun biar
tidurnya mendengkur, Sedikit suara saja cukup membuat ia terjaga dari tidurnya. Kamarnya berada di
sebelah kamar murid Kun-lun-pai, maka ia mendengar suara dari dalam kamar itu, cukup membuatanya
terbangun dan curiga.
Karena tiap kamar penginapan terdapat jendela di sebelah belakang, ia cepat membuka daun jendela
dan... seperti kilat cepatnya ia meloncat keluar dan menerkam seorang laki-laki yang berdiri di depan
jendela murid ku-lun-pai. Kedua lengannya yang kuat bergerak, dalam segebrakan saja si Tinggi Besar
berhasil mencekik leher orang itu.
"Hayo mengaku, siapa kau dan...uuhhh!" Tubuh yang tinggi besar itu seketika menjadi lemas dan
kepalanya miring, lalu ia roboh tak berkutik lagi di depan laki-laki setengah tua yang jangkung itu !
"Apa yang kau lakukan ? Penjahat...!"
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Sebatang golok menyambar dengan hebatnya membentuk sinar melengkung seperti pelangi. Kiranya
pemuda yang memiliki Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru telah turun tangan melihat ada orang
merobohkan temannya yang tinggi besar. Memang indah gerakannya, gulungan sinar goloknya seperti
gerakan pita dan selendang para bidadari sedang menari-nari.
Namun, dengan mudah bayangan itu menyelinap di antara gulungan sinar golok dan belum juga empat
jurus Si Pemuda menyerang, ia sudah roboh pula terkena tamparan pada lehernya roboh untuk
selamanya karena nyawanya melayang.
Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, si Bayangan Maut itu menuju ke kamar yang lain. Namun
belum sempat ia membuka jendela, empat orang pemuda yang lain sudah berlari datang dan
mengepungnya. Mereka lalu berlari ke belakang dan segera mengepung si Bayangan Maut ketika melihat
betapa dua orang temannya sudah menggeletak pula tak bernyawa.
"Kalian harus mampus semua...!"
Bayangan itu mendengus, tubuhnya bergerak secara aneh sekali, menyelinap diantara sambaran empat
buah senjata para pengurungnya. Hebat memang kepandaian bayangan maut ini. Empat orang pemuda
yang mengeroyoknya bukanlah pemuda-pemuda sembarangan. Mereka itu sudah terdidik dalam ilmu
silat yang cukup tinggi, setingkat dengan anak murid Kun-lun-pai dan dengan si Tinggi Besar atau si
Golok Pelangi. Namun menghadapi bayangan maut ini, mereka tak mampu berbuat banyak. Lawan
mereka yang mereka keroyok ini seakan-akan hanya bayangan kosong tak mungkin dapat tersinggung
senjata mereka.
Tiba-tiba bayangan itu terkekeh dan...setelah terdengar suara "plak-plak-plak-plak !"empat kali, empat
orang pemuda itupun roboh, terpukul pada leher mereka dan tewas seketika !
Setelah membunuh tujuh orang pemuda itu, bayangan ini berdiri dengan kaki terpentang lebar,
mendongakkan mukanya ke atas sambil tertawa. "Ha ha hah ! Alangkah lucunya !Orang-orang macam
ini mengharapkan seorang dewi seperti dia ! Ha ha hah !"
Kemudian, melihat suara ribut-ribut dari pengurus penginapan yang agaknya terjaga, sekali meloncat ia
sudah berada di atas genteng, lalu bagaikan gerakan seekor kucing, ia berlari ke arah belakang tanpa
menimbulkan suara. Akan tatapi mendadak orang itu berseru perlahan ketika kakinya terpeleset karena
genteng yang diinjaknya merosot turun. Cepat ia berjongkok di atas bangunan bagian belakang rumah
penginapan itu dan membuka genteng, mengintai.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Kiranya di situ terdapat seorang pemuda lagi yang enak tidur telentang.Sebatang lilin kecil menyala di
atas meja. Kepalanya diganjal bantalan pakaian. Tidak tampak senjata di dalam kamar itu sehingga
bayangan itu mengerutkan kening. Seorang pemuda pelajar, pikirnya, tak mungkin dia yang main-main
denganku. Akan tetapi siapa tahu ? Ia mengeluarkan sebatang jarum merah dan sekali jari-jari tangannya
bergerak, melesatlah sinar merah ke bawah melalui celah-celah genteng, menuju ke arah leher si pemuda
yang tidur telentang.
Pemuda di bawah itu yang bukan lain adalah Si Pelajar Kwee Seng, menggeliat dan mengaluh seperti
orang mengingau dalam tidurnya,lalu miring. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu menegang kaget dan tak
bergerak-gerak lagi. Bayangan orang di atas genteng tersenyum puas melihat korbannya yang ke
delapan, maka ia bangkit berdiri dan cepat ia lari pergi dari tempat itu, menghilang di dalam gelap !
"Tolong...! Pembunuhan... pembunuhan...!!" Suara pengurus penginapan ini terdengar lantang sekali di
waktu fajar itu, mengagetkan semua orang. Para pelayan bersama para tamu lainnya berbondong keluar
dan sebentar saja di tempat pembunuhan sudah penuh dengan orang. Obor-obor dan lampu-lampu
dipasang sehingga keadaan menjadi terang sekali. Pembunuhan yang sekaligus mengorbankan nyawa
tujuh orang pemuda kang-ouw benar-benar merupakan peristiwa hebat yang mengejutkan sekali.
Ketika pengurus penginapan melihat Kwee Seng berada di antara banyak itu, ikut menjenguk dan
melihat pemuda-pemuda teruna yang menjadi korban pembunuhan aneh, pengurus itu segera memegang
lengannya dan berkata. "Ah, Kongcu benar-benar seorang yang masih dilindungi Thian (Tuhan) !
Seandainya Kongcu diterima tidur dengan mereka, ah... tentu akan bertambah seorang lagi korban
pembunuh kejam ini !"
Kwee Seng hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum duka. Di dalam hatinya ia menyangkal
keras pendapat pengurus rumah penginapan ini. Andaikata ia diterima bermalam dengan mereka, belum
tentu iblis maut yang malam itu merajalela dapat menjatuhkan tangan mautnya.
Diam-diam ia meraba jarum kecil yang ia masukkan ke dalam saku bajunya, jarum merah yang malam
tadi pun hampir membunuhnya. Menyesallah hati Kwee Seng mengapa malam tadi ia tidak mengejar si
penjahat yang mencoba membunuhnya, dan mengapa ia begitu enak tidur sehingga ia tidak tahu di bagian
depan penginapan itu menjadi tempat penyembelihan tujuh orang muda.
Kwee Seng adalah seorang mahasiswa gagal. Ia suka sekali akan bun (sastra), bu (silat), namun
bakatnya lebih menjurus kepada bu (silat). Seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara merantau tanpa
tujuan.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Namun ilmu kepandaiannya amat tinggi, ilmu silatnya sukar mendapatkan tandingan karena selain ia telah
mempelajarinya dari para pertapa sakti di puncak-puncak gunung sebelah barat, juga ia pernah berjumpa
dengan manusia dewa Bu Kek Siansu yang telah menurunkan beberapa macam ilmu kepadanya.
Bu Kek Siansu terkenal sebagai manusia dewa yang sewaktu-waktu muncul untuk mencari bahan baik,
tulang pendekar berwatak budiman, dan menurunkan ilmu. Tak seorang pun di dunia ini tahu dari mana
asalnya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap.
Kwee Seng pernah mengikuti ujian di kota raja namun gagal. Semenjak itu, ia tidak pernah kembali ke
kampung halamannya, yaitu di sebuah dusun kecil di kaki gunung Luliang-san, karena ayah bundanya
sudah lama meninggal dunia oleh wabah penyakit ketika ia masih kecil.
Ia merantau sebagai seorang kang-ouw yang tak terkenal karena semua sepak terjangnya ia
sembunyikan. Hanya beberapa orang tokoh besar saja di dunia kang-ouw yang mengenal pendekar sakti
muda ini, malah diam-diam ia diberi julukan Kim-mo-eng (pendekar Setan Emas).
Ia disebut setan karena sepak terjangnya seperti setan, tak pernah memperlihatkan diri. Akan tetapi ia di
sebut emas yang mengandung maksud bahwa pendekar ini berhati emas, membela kebenaran dan
keadilan, pembasmi kelaliman dan kekejaman. Namun nama ini hanya kalangan atas terbatas saja pernah
mendengar, di dunia kang-ouw nama Kim-mo-eng Kwee Seng tak pernah terdengar.
Kwee Seng tidak berbohong ketika mengatakan kepada ke tujuh orang pendekar pada malam yang lalu
bahwa ia adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota raja Nan-Cao. Memang ia tidak
mempunyai niat untuk menjadi tamu Beng-kauw, sungguhpun nama Pat-jiu Sin-ong bukanlah nama asing
baginya.
Ia tidak suka tokoh besar itu diangkat menjadi koksu, hal yang ia anggap sebagai bukti kerakusan akan
kedudukan dan kemuliaan. Maka baginya, hal itu tidak perlu diberi selamat. Apalagi mendengar berita
tentang putri Pat-jiu Sin-ong yang hendak memilih jodoh, seujung rambutpun tiada niat di hatinya untuk
ikut-ikutan memasuki sayembara, bahkan ingin melihat si jelita pun sama sekali ia tidak ada nafsu.
Memang demikianlah watak Kwee Seng. Ia memandang rendah kepada hal-hal yang dianggapnya tidak
benar atau menyimpang daripada kebenaran. Padahal harus diakui bahwa ia adalah seorang pemuda
yang baru berusia dua puluh tiga tahun, yang tentu saja sebagai seorang pemuda normal, selalu
berdebar-debar apabila melihat seorang gadis cantik.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Ia seorang pemuda yang pada dasarnya memiliki watak romantis,suka akan keindahan, suka akan
tamasya alam yang permai, suka akan bunga yang indah dan harum, dan tentu saja bentuk tubuh seorang
dara jelita. Akan tetapi, kekuatan batinnya cukup untuk menekan semua perasaan ini dan membuat ia
tetap tenang.
Peristiwa pembunuhan di dalam rumah penginapan itu membangkitkan jiwa satrianya.
Ia mendengar keterangan sana-sini dan tahu bahwa tujuh orang pemuda itu adalah calon- calon pengikut
sayembara untuk meminang puteri Beng-kauwcu. Mendengar pula betapa pemuda-pemuda itu sudah
kegilaan akan Nona Liu Lu Sian, dara rupawan yang pada pagi hari kemarin lewat didepan rumah
penginapan.
Karena ini, diam-diam KweeSeng menghubungkan semua itu dengan pembunuhan. Agaknya karena
mereka itu tergila-gila kepada Liu Lu Sian maka malam ini menjadi korban pembunuhan keji. Entah apa
yang menjadi dasar pembunuhan , entah cemburu atau bagaimana. Namun yang pasti, untuk mencari
pembunuhnya ia harus datang menjadi tamu Beng-Kauw !
Inilah yang membuat Kwee Seng terpaksa menunda perantauannya dan bersama dengan para tamu
lainnya , ia pun melangkahkan kaki menuju ke gedung keluarga Pat-jiu Sin-ong.
Rumah gedung keluarga Liu dihias meriah. Pekarangan yang amat luas itu telah diatur menjadi ruangan
tamu, dibagian tengah agak mendalam yang letaknya lebih tinggi rauangan depan, kini dipergunakan untuk
tempat rumah dan para tamu yang terhormat atau para tamu kehormatan.
Ruangan ini disambung dengan sebuah panggung setinggi satu meter yang cukup luas dan panggung ini
diperuntukkan untuk mereka yang hendak bicara mengadakan sambutan, juga dibentuk semacam
panggung tempat main silat.
Panggung semacam ini memang lajim diadakan setiap kali ada ahli silat mengadakan sesuatu, karena
perayaan diantara ahli silat tanpa pertunjukan silat akan merupakan hal yang janggal dan mentertawakan.
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan belum tampak di luar. Para tamu disambut oleh tiga orang sute (adik
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
seperguruan), yaitu pertama adalah Liu Mo adik kandungnya sendiri, Liu Mo berusia empat puluh tahun
lebih, sikapnya tenang dan pendiam, sinar matanya membayangkan watak yang serius (sungguh-sungguh)
dan berwibawa.
Biarpun Liu Mo memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan orang ke dua dalam
Beng-kauw, namun ia tetap sederhana dan tidak mempunyai julukan apa-apa. Di dalam Beng-kauw, ia
merupakan pembantu yang amat berharga dari kakak kandungnya dan boleh boleh dikatakan untuk
segala urusan dalam, Liu Mo inilah yang sering mewakili kakaknya.
Orang ke dua adalah Ma Thai kun. Orangnya tinggi kurus, wajahnya selalu keruh dan biarpun usianya
baru tiga puluh enam tahun, namun ia memelihara jenggot dan kelihatan lebih tua. Ia terkenal pemarah
dan wataknya keras, kepandaianya juga tinggi dan ilmu silatnya tangan kosong amat hebat.
Segala macam pukulan dipelajarinya dan kedua tangannya mengandung tenaga dalam yang amat
dahsyat. Berbeda dengan Liu Mo yang sabar dan berwibawa, orang ke tiga dari Beng-kauw ini
menyambut tamu dengan wajah gelap dan tak pernah tersenyum, juga ia memandang rendah kepada
para tamunya.
Orang ke tiga dari para wakil Ketua Beng-Kauw ini usianya hampir tiga puluh tahun, akan tetapi
wajahnya terang dan kelihatan masih muda. Dandanannya sederhana sekali, bahkan lucu karena ia
menggunakan sebuah caping (topi berujung runcing) seperti dipakai para petani atau penggembala.
Di punggungnya terselip sebatang cambuk yang biasa dipergunakan para penggembala mengatur
binatang gembalaannya! Memang murid termuda ini seorang yang ahli dalam soal pertanian dan
peternakan. Wajahnya terang dan ia menerima para tamu dengan sikap hormat sekali.
Inilah Kauw Bian seorang pemuda desa yang menjadi sute termuda dari Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
Biarpun sikapnya sederhana dan seperti seorang desa, akan tetapi jangan dipandang rendah
kepandaiannya dan pecut itu sama sekali bukanlah pecut biasa melainkan senjatanya yang ampuh!
Sebagaimana lazimnya para tokoh besar, mereka ini selalu menahan "harga diri", tidak sembarangan
orang dapat menjumpai dan dalam menyambut tamu, biasanya diwakilkan dan kalau perlu barulah ia
sendiri muncul menemui tamunya.
Demikian pula Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ia pun menahan harga dirinya dan seluruh para tamu sudah
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
berkumpul semua dan tidak ada lagi yang datang baru tokoh besar ini muncul di ruangan tuan rumah.
Para tamu segera bangkit berdiri memandang ke arah tuan rumah dengan kagum.
Memang patut sekali Liu Gan menjadi seorang tokoh yang terkenal lebih tinggi daripada perawakan
seorang laki-laki biasa. Kekar dan berdiri tegak, dadanya lebar membusung, pakaiannya indah, pandang
matanya berwibawa. Kepalanya tertutup topi bulu yang terhias bulu burung rajawali.
Ketua Beng-Kau ini keluar sambil tersenyum-senyum dan menjura ke arah para tamu lalu duduk. Para
tamu juga lalu duduk kembali, akan tetapi semua mata tetap terbelalak lebar memandang gadis yang
keluar bersama, Pat-jiu Sin-Ong.
Itulah dia, gadis yang kini menarik semua pandang mata bagaikan besi sembrani menarik logam. Liu Lu
Sian, dara jelita yang pada saat itu mengenakan pakaian sutera putih terhias benang emas dan
renda-renda, merah muda. Cantik jelita bagaikan dewi khayangan!
Para muda melongo, ada yang menelan ludah, ada yang lupa mengatupkan mulutnya, bahkan ada yang
menggosok-gosok mata karena merasa dalam mimpi! Namun orang yang menjadikan para muda
terpesona itu tetap duduk dengan tegak dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir. Tapi
banyak pula yang memandang dengan hati ngeri.
Mereka semua, tua muda, sudah mendengar belaka tentang peristiwa hebat di dalam rumah penginapan,
dimana tujuh orang pendekar muda yang tergila-gila kepada gadis ini terbunuh secara aneh.
Para tamu yang duduk di ruangan kehormatan mulai bergerak menghampiri Pat-jiu Sin-ong
menghaturkan selamat, diikuti tamu-tamu lain. Pat-jiu Sin-ong menyambut pemberian selamat itu sambil
tertawa-tawa dan tidak berdiri dari bangkunya, sikap yang jelas memperlihatkan keangkuhannya.
Setelah para tamu memberi selamat, dan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba Pat-jiu
sin-ong berdiri dari bangkunya memandang ke luar dan berseru keras. "Aha, saudara muda Kwee Seng !
Kau datang juga hendak memberi selamat kepadaku? Bagus! Menggembirakan sekali. Mari ke sini, kau
mau duduk bersamaku!"
Tentu saja semua tamu menoleh ke arah luar untuk melihat tamu agung manakah yang begitu
menggembirakan Pat-jiu Sin-ong sehingga tokoh ini sampai berdiri dan berseru menyambut segembira
itu? Mereka mengira bahwa yang datang tentulah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
Akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat seorang pemuda berpakaian sastrawan yang
melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah lambat dan sikap lemah-lembut. Seorang pelajar lemah
seperti ini bagaimana bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari Pat-jiu Sin-ong yang terkenal angkuh
dan tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir di situ?
Pemuda itu bukan lain adalah Kwee Seng. Memang jarang ada orang kang-ouw mengenalnya, tetapi di
antara sedikit tokoh besar dunia kang-ouw yang tahu akan kehebatan orang muda ia adalah Pat-jiu
Sin-ong, karena Ketua Beng-kauw ini pernah bertemu dengan Kwee Seng ketika dia mengunjungi Ketua
Siauw-lim-pai, Kian Hi Hosiang yang sakti, memperlakukan pemuda ini sebagai seorang tamu agung
pula!
Inilah sebabnya maka Ketua Beng-kauw mengenal Kwee Seng dan biarpun belum membuktikan sendiri
kehebatan pemuda ini, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda yang di sambut demikian hormatnya oleh
Ketua Siauw-lim-pai, yang malah dijuluki Kim-mo-eng, tentulah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Dengan tenang dan tersenyum ramah Kwee Seng menghampiri tuan rumah menjura dengan hormat
sambil berkata, "Liu-enghiong (Orang Gagah She Liu), maafkan saya datang menggangu secawan dua
cawan arak. Terus terang saja, kebetulan lewat dan mendengar tentang keramaian di sini dan ingin
menonton.
"Akan tetapi sama sekali bukan untuk memberi selamat. Makin tinggi kedudukan makin banyak
keruwetan dan makin besar kemuliaan makin besar pula kejengkelan, apa perlunya diberi selamat?"
"Ha-ha-ha-ha! Kata-katamu ini memang cocok bagi orang yang mengejar kedudukan dan
memperebutkan kemuliaan, yang tentu saja hanya akan menemui kejengkelan dan memperbanyak
permusuhan. Akan tetapi aku menjadi koksu (guru negara) untuk membimbing pemerintahan negaraku
yang dipimpin oleh keluargaku sendiri.
"Ini namanya panggilan negara dan bangsa, kewajiban seorang gagah. Akupun tidak butuh pemberian
selamat yang semua palsu belaka, basa-basi palsu, berpura-pura untuk mengambil hati. Ha-ha-ha! Lebih
baik yang jujur seperti kau ini, Kwee-hiante. Mari duduk!"
Dengan gembira tuan rumah menggandeng tangan Kwee Seng, diajak duduk semeja dan segera Liu Gan
memerintahkan pelayan mengambil arak terbaik dari cawan perak untuk Kwee Seng.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"Liu-enghiong, aku mendengar pula bahwa kau hendak mencari mantu dalam perayaan ini..."
"Ah, anakku yang ingin mencari jodoh. He, Lu Sian, perkenalkan ini sahabat baikku, Kwee Seng!"
Ketua Beng-kauw itu dengan bebas berteriak kepada puterinya. Liu Lu Sian sejak tadi memang
memperhatikan Kwee Seng yang disambut secara istimewa oleh ayahnya.
Biarpun pemuda ini gerak-geriknya halus seperti orang lemah, namun melihat sinar matanya, Lu Sian
dapat menduga bahwa Kwee Seng adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Mendengar seruan ayahnya ia lalu bangkit berdiri lalu menghampiri Kwee Seng sambil merangkapkan
kedua tangannya. "Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee), terimalah hormatku!" katanya dengan suara
merdu dan bebas, gerak-geriknya manis sama sekali tidak malu-malu atau kikuk seperti sikap gadis
biasa.
Kwee Seng sejak tadi hanya memperhatikan Liu Gan saja maka tidak tahu bahwa di ruangan itu
terdapat gadis puteri Liu Gan yang kecantikannya telah banyak pemuda tergila-gila, bahkan agaknya
yang telah menjadi sebab daripada akibat mengerikan di rumah penginapan malam kemarin.
Mendengar suara merdu ini ia menengok dan... pemuda itu berdiri terpesona, sejenak ia tidak dapat
berkata-kata, bahkan seakan-akan dalam keadaan tertotok jalan darah di seluruh tubuhnya, tak dapat
bergerak seperti patung batu! Belum pernah selama hidupnya ia terpesona oleh kejelitaan seorang wanita
seperti saat itu. Mata itu!
Bening bersih gilang-gemilang tiada ubahnya sepasang bintang kerling tajam menggores jantung kedip
mesra membuat bingung
Bulu mata lentik berseri bagai rumput panjang di pagi hari sepasang alis hitam kecil melengkung
menggeliat-geliat malas kedua ujung!
"Kwee-kongcu..." kata pula Liu Sian melihat pemuda itu diam saja seperti patung, dalam hatinya geli
bukan main.
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
"A... oh..., Liu-siocia (Nona Liu), tidak patut saya menerima penghormatan ini...!" jawabnya gagap
sambil cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika
ia merasa betapa angin pukulan menyambar dari arah kedua tangan gadis yang dirangkap di depan dada
itu.
Angin pukulan yang mengandung hawa panas dan yang tentu akan cukup membuat ia terjungkal dan
terluka hebat. Alangkah kecewanya hati Kwee Seng! Dara juwita ini, yang dalam sedetik telah membuat
perasaannya morat-marit, yang kecantikannya memenuhi semua seleranya, menguasai seluruh cintanya,
ternyata memiliki watak yang liar dan ganas!
Sekilas teringat lagi ia akan pembunuhan tujuh orang pemuda tak berdosa dan seketika itu Kwee Seng
merasa jantungnya sakit. Ia masih terpesona, masih kagum bukan main melihat dara jelita ini, namun
kekaguman yang bercampur kekecewaan. Maka ia pun cepat mengarahkan tenaga ke arah ke dua
tangannya yang membalas penghormatan.
"Aiiihhh...! Mengapa Kwee-kongcu demikian sungkan? Penghormatan kami sudah selayaknya!" kata
Liu Lu Sian yng berseru untuk menutupi kekagetannya ketika angin pukulan yang keluar dari pengerahan
sin-kang di kedua tangannya membalik seperti angin meniup benteng baja.
Gadis ini sambil tersenyum manis menyambar guci arak pilihan dari tangan pelayan bersama sebuah
cawan perak, lalu menuangkan arak ke dalam cawan itu. Cawan sudah penuh, terlampau penuh akan
tetapi anehnya, arak di dalam cawan tidak luber, tidak membanjir keluar. Permukaan arak melengkung
ke atas berbentuk telur.
Dengan tangan kanan memegang cawan yang terisi arak itu Liu Lu Sian berkata,"Kehadiran
Kwee-kongcu merupakan kehormatan besar, harap sudi menerima arak sebagai tanda terima kasih
kami."
Kembali Kwee Seng tertegun. Dara juwita ini tidak saja cantik seperti bidadari, akan tetapi juga
memiliki kepandaian hebat. Sin-kang yang diperlihatkan kali ini lebih halus, sehingga bagi orang biasa
tentu merupakan perbuatan yang tak masuk akal, seperti sihir.
Akan tetapi makin kecewalah hati Kwee Seng karena ia menganggap bahwa gadis ini terlalu binal dan
suka membuat malu orang lain. Kalau yang menerima arak sepenuh itu tidak memiliki sin-kang yang
tinggi, apakah tidak akan mendatangkan malu karena araknya pasti akan tumpah semua begitu gadis ini
Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html
melepaskan pegangannya?
"Siocia terlampau sungkan. Terlalu besar kehormatan ini bagi saya..." Kwee Seng menerima cawan
sambil mengerahkan tenaganya sehingga ketika Lu Sian melepas cawan itu, arak yang terlalu penuh tetap
melengkung di atas cawan tidak tumpah sedikitpun juga.
Akan tetapi jantung Kwee Seng berdegup keras karena ketika ia menerima cawan tadi jari tangannya
bersentuhan dengan kulit tangan yang halus sekali, sementara itu, hidungnya mencium bau harum
semerbak yang luar biasa, bau harum bermacam bunga yang baru sekarang ia menciumnya karena tadi ia
terlampau terpesona oleh kecantikan Lu Sian.
Ia tadi sudah berhati-hati sekali, sebagai seorang yang sopan, agar jari tangannya tidak menyentuh jari
gadis itu, akan tetapi toh bersentuhan, maka ia tahu bahwa gadis itulah yang sengaja menyentuhkan
tangannya!
Berbarengan dengan datangnya degup jantung mengeras dan ganda harum yang memabokkan otak,
timbul hasrat hati Kwee Seng untuk memamerkan kepandaiannya pula di depan gadis jelita yang
berlagak ini.
Ia segera menuangkan arak ke dalam mulutnya, mengangkat cawan tinggi ke atas mulut dan
menuangkannya. Akan tetapi, sampai cawan itu membalik, araknya tetap tidak mau tumpah ke dalam
mulut ! Arak itu seakan-akan sudah membeku di dalam cawan!
“Ah, maaf... maaf... saya memang tidak bisa minum arak baik!" kata Kwee Seng sambil menurunkan lagi
cawannya. Tiba-tiba ia membuka sedikit mulutnya dan dari cawan yang sudah berdiri lagi itu tiba-tiba
meluncur arak seperti pancuran kecil menuju ke atas dan langsung memasuki cawan itu menjadi kering!
"Wah, kehadiran Kwee-kongcu benar-benar menggembirakan. Kalau tadi secawan arak untuk
penghormatan kami, sekarang kuharap kongcu sudi menerima secawan lagi, khusus dariku!" kata pula Lu
Sian sambil menuangkan lagi arak ke dalam cawan kosong, kali ini lebih penuh daripada tadi, lalu
memberikannya kepada Kwee Seng.
No comments:
Post a Comment