Thursday, 11 March 2010

bagian ke dua

penginapan sedangkan tujuh orang pendekar itu sudah kembali ke kamar masing-masing dan

menutupkan daun pintunya.

"Ah, ada.. Ada, Kongcu. Akan tetapi, itu adalah kamar-kamar kecil di sebelah belakang, dahulu

menjadi kamar pelayan, tidak berani saya menawarkannya kepada Kongcu..."

Kwee Seng tersenyum. "Tidak mengapa, Lopek. Malam sudah begini larut, mencari kamar di

penginapan lain pun repot. Biarlah aku bermalam di kamar pelayan itu."

Dengan tergopoh-gopoh pengurus penginapan itu lalu mendahului Kwee Seng sambil membawa sebuah

lampu, mengantar tamunya ke sebuah kamar yang berada jauh di ujung belakang. Benar saja, kamar ini

kecil, hanya terisi sebuah pembaringan bambu yang setengah reyot, lantainya tidak begitu bersih pula.

"Ah, cukup baik !" seru Kwee Seng sambil menaruh bungkusan pakaiannya di atas pembaringan. "Tidak

usah kau tinggal lampumu, Lopek aku biasa tidur gelap. "Ia menjatuhkan dirinya di atas pembaringan

yang mengeluarkan bunyi berkereotan.

Pengurus penginapan itu keluar dari dalam kamar membawa lampunya sambil menggeleng-geleng kepala

saking heran melihat seorang kongcu berpakaian indah itu kelihatannya sudah tidur pulas begitu tubuhnya

menyentuh pembaringan, ia menutupkan daun pintu perlahan-lahan.

Sebentar kemudian sekeliling tempat penginapan sunyi. Pengurus dan penjaga pun sudah tidur . Yang

terdengar hanya dengkur yang keras dari kamar pemuda tinggi besar. Dari beberapa buah kamar lain

terdengar suara orang mengigau menyebut-nyebut nama Liu Lu Sian. Bahkan dalam mimpi

pemuda-pemuda ini selalu merindukan Lu Sian!

Suara mengigau ini keluar dari kamar pemuda anak murid Kun-lun-pai. Tiba-tiba sebagai seorang ahli

silat, pemuda tampan itu meloncat turun dari pembaringannya ketika pendengarannya, atau agaknya lebih

tepat indera keenamnya, mendengar suara yang mencurigakan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Dalam meloncat tadi sekaligus ia telah mencabut pedangnya, dan sekali menggoncang kepalanya

lenyaplah semua kantuk dan ia sudah berada dalam posisi siap siaga, sepasang matanya melirik ke arah

jendela kecil kamarnya. Tiba-tiba jendela itu terbuka daunnya dari luar, dan muncullah seorang laki-laki

jangkung yang berusia empat puluh tahun lebih, bertangan kosong. Orang ini memasuki kamar melalui

jendela dengan gerakan ringan dan sikap tenang saja.

"Siapa kau ? Mau apa..."

"Mau membunuhmu. Manusia macam kau berani menyebut-nyebut peteri Beng-kauwcu harus mampus

!" berkata bayangan laki-laki itu dengan suara mendesis, lalu menerjang maju.

Pemuda Kun-lun-pai itu tentu saja tidak menjadi gentar biarpun ia merasa kaget sekali. Pedangnya

berkelebat dan bergulung-gulung sinarnya di depan dada bermaksud melindungi dirinya saja terhadap

orang yang agaknya gila ini. Akan tetapi, tiba-tiba sekali gerakan pedangnya berhenti seakan- akan

tertahan oleh tenaga yang tak tampak dan sebelum pemuda Kun-lun-pai ini tewas seketika tanpa dapat

bersambat lagi !

Suara mendengkur dari kamar si Tinggi Besar terhenti seketika. Jagoan bertenaga gajah ini pun biar

tidurnya mendengkur, Sedikit suara saja cukup membuat ia terjaga dari tidurnya. Kamarnya berada di

sebelah kamar murid Kun-lun-pai, maka ia mendengar suara dari dalam kamar itu, cukup membuatanya

terbangun dan curiga.

Karena tiap kamar penginapan terdapat jendela di sebelah belakang, ia cepat membuka daun jendela

dan... seperti kilat cepatnya ia meloncat keluar dan menerkam seorang laki-laki yang berdiri di depan

jendela murid ku-lun-pai. Kedua lengannya yang kuat bergerak, dalam segebrakan saja si Tinggi Besar

berhasil mencekik leher orang itu.

"Hayo mengaku, siapa kau dan...uuhhh!" Tubuh yang tinggi besar itu seketika menjadi lemas dan

kepalanya miring, lalu ia roboh tak berkutik lagi di depan laki-laki setengah tua yang jangkung itu !

"Apa yang kau lakukan ? Penjahat...!"

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Sebatang golok menyambar dengan hebatnya membentuk sinar melengkung seperti pelangi. Kiranya

pemuda yang memiliki Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru telah turun tangan melihat ada orang

merobohkan temannya yang tinggi besar. Memang indah gerakannya, gulungan sinar goloknya seperti

gerakan pita dan selendang para bidadari sedang menari-nari.

Namun, dengan mudah bayangan itu menyelinap di antara gulungan sinar golok dan belum juga empat

jurus Si Pemuda menyerang, ia sudah roboh pula terkena tamparan pada lehernya roboh untuk

selamanya karena nyawanya melayang.

Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, si Bayangan Maut itu menuju ke kamar yang lain. Namun

belum sempat ia membuka jendela, empat orang pemuda yang lain sudah berlari datang dan

mengepungnya. Mereka lalu berlari ke belakang dan segera mengepung si Bayangan Maut ketika melihat

betapa dua orang temannya sudah menggeletak pula tak bernyawa.

"Kalian harus mampus semua...!"

Bayangan itu mendengus, tubuhnya bergerak secara aneh sekali, menyelinap diantara sambaran empat

buah senjata para pengurungnya. Hebat memang kepandaian bayangan maut ini. Empat orang pemuda

yang mengeroyoknya bukanlah pemuda-pemuda sembarangan. Mereka itu sudah terdidik dalam ilmu

silat yang cukup tinggi, setingkat dengan anak murid Kun-lun-pai dan dengan si Tinggi Besar atau si

Golok Pelangi. Namun menghadapi bayangan maut ini, mereka tak mampu berbuat banyak. Lawan

mereka yang mereka keroyok ini seakan-akan hanya bayangan kosong tak mungkin dapat tersinggung

senjata mereka.

Tiba-tiba bayangan itu terkekeh dan...setelah terdengar suara "plak-plak-plak-plak !"empat kali, empat

orang pemuda itupun roboh, terpukul pada leher mereka dan tewas seketika !

Setelah membunuh tujuh orang pemuda itu, bayangan ini berdiri dengan kaki terpentang lebar,

mendongakkan mukanya ke atas sambil tertawa. "Ha ha hah ! Alangkah lucunya !Orang-orang macam

ini mengharapkan seorang dewi seperti dia ! Ha ha hah !"

Kemudian, melihat suara ribut-ribut dari pengurus penginapan yang agaknya terjaga, sekali meloncat ia

sudah berada di atas genteng, lalu bagaikan gerakan seekor kucing, ia berlari ke arah belakang tanpa

menimbulkan suara. Akan tatapi mendadak orang itu berseru perlahan ketika kakinya terpeleset karena

genteng yang diinjaknya merosot turun. Cepat ia berjongkok di atas bangunan bagian belakang rumah

penginapan itu dan membuka genteng, mengintai.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya di situ terdapat seorang pemuda lagi yang enak tidur telentang.Sebatang lilin kecil menyala di

atas meja. Kepalanya diganjal bantalan pakaian. Tidak tampak senjata di dalam kamar itu sehingga

bayangan itu mengerutkan kening. Seorang pemuda pelajar, pikirnya, tak mungkin dia yang main-main

denganku. Akan tetapi siapa tahu ? Ia mengeluarkan sebatang jarum merah dan sekali jari-jari tangannya

bergerak, melesatlah sinar merah ke bawah melalui celah-celah genteng, menuju ke arah leher si pemuda

yang tidur telentang.

Pemuda di bawah itu yang bukan lain adalah Si Pelajar Kwee Seng, menggeliat dan mengaluh seperti

orang mengingau dalam tidurnya,lalu miring. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu menegang kaget dan tak

bergerak-gerak lagi. Bayangan orang di atas genteng tersenyum puas melihat korbannya yang ke

delapan, maka ia bangkit berdiri dan cepat ia lari pergi dari tempat itu, menghilang di dalam gelap !

"Tolong...! Pembunuhan... pembunuhan...!!" Suara pengurus penginapan ini terdengar lantang sekali di

waktu fajar itu, mengagetkan semua orang. Para pelayan bersama para tamu lainnya berbondong keluar

dan sebentar saja di tempat pembunuhan sudah penuh dengan orang. Obor-obor dan lampu-lampu

dipasang sehingga keadaan menjadi terang sekali. Pembunuhan yang sekaligus mengorbankan nyawa

tujuh orang pemuda kang-ouw benar-benar merupakan peristiwa hebat yang mengejutkan sekali.

Ketika pengurus penginapan melihat Kwee Seng berada di antara banyak itu, ikut menjenguk dan

melihat pemuda-pemuda teruna yang menjadi korban pembunuhan aneh, pengurus itu segera memegang

lengannya dan berkata. "Ah, Kongcu benar-benar seorang yang masih dilindungi Thian (Tuhan) !

Seandainya Kongcu diterima tidur dengan mereka, ah... tentu akan bertambah seorang lagi korban

pembunuh kejam ini !"

Kwee Seng hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum duka. Di dalam hatinya ia menyangkal

keras pendapat pengurus rumah penginapan ini. Andaikata ia diterima bermalam dengan mereka, belum

tentu iblis maut yang malam itu merajalela dapat menjatuhkan tangan mautnya.

Diam-diam ia meraba jarum kecil yang ia masukkan ke dalam saku bajunya, jarum merah yang malam

tadi pun hampir membunuhnya. Menyesallah hati Kwee Seng mengapa malam tadi ia tidak mengejar si

penjahat yang mencoba membunuhnya, dan mengapa ia begitu enak tidur sehingga ia tidak tahu di bagian

depan penginapan itu menjadi tempat penyembelihan tujuh orang muda.

Kwee Seng adalah seorang mahasiswa gagal. Ia suka sekali akan bun (sastra), bu (silat), namun

bakatnya lebih menjurus kepada bu (silat). Seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara merantau tanpa

tujuan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Namun ilmu kepandaiannya amat tinggi, ilmu silatnya sukar mendapatkan tandingan karena selain ia telah

mempelajarinya dari para pertapa sakti di puncak-puncak gunung sebelah barat, juga ia pernah berjumpa

dengan manusia dewa Bu Kek Siansu yang telah menurunkan beberapa macam ilmu kepadanya.

Bu Kek Siansu terkenal sebagai manusia dewa yang sewaktu-waktu muncul untuk mencari bahan baik,

tulang pendekar berwatak budiman, dan menurunkan ilmu. Tak seorang pun di dunia ini tahu dari mana

asalnya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap.

Kwee Seng pernah mengikuti ujian di kota raja namun gagal. Semenjak itu, ia tidak pernah kembali ke

kampung halamannya, yaitu di sebuah dusun kecil di kaki gunung Luliang-san, karena ayah bundanya

sudah lama meninggal dunia oleh wabah penyakit ketika ia masih kecil.

Ia merantau sebagai seorang kang-ouw yang tak terkenal karena semua sepak terjangnya ia

sembunyikan. Hanya beberapa orang tokoh besar saja di dunia kang-ouw yang mengenal pendekar sakti

muda ini, malah diam-diam ia diberi julukan Kim-mo-eng (pendekar Setan Emas).

Ia disebut setan karena sepak terjangnya seperti setan, tak pernah memperlihatkan diri. Akan tetapi ia di

sebut emas yang mengandung maksud bahwa pendekar ini berhati emas, membela kebenaran dan

keadilan, pembasmi kelaliman dan kekejaman. Namun nama ini hanya kalangan atas terbatas saja pernah

mendengar, di dunia kang-ouw nama Kim-mo-eng Kwee Seng tak pernah terdengar.

Kwee Seng tidak berbohong ketika mengatakan kepada ke tujuh orang pendekar pada malam yang lalu

bahwa ia adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota raja Nan-Cao. Memang ia tidak

mempunyai niat untuk menjadi tamu Beng-kauw, sungguhpun nama Pat-jiu Sin-ong bukanlah nama asing

baginya.

Ia tidak suka tokoh besar itu diangkat menjadi koksu, hal yang ia anggap sebagai bukti kerakusan akan

kedudukan dan kemuliaan. Maka baginya, hal itu tidak perlu diberi selamat. Apalagi mendengar berita

tentang putri Pat-jiu Sin-ong yang hendak memilih jodoh, seujung rambutpun tiada niat di hatinya untuk

ikut-ikutan memasuki sayembara, bahkan ingin melihat si jelita pun sama sekali ia tidak ada nafsu.

Memang demikianlah watak Kwee Seng. Ia memandang rendah kepada hal-hal yang dianggapnya tidak

benar atau menyimpang daripada kebenaran. Padahal harus diakui bahwa ia adalah seorang pemuda

yang baru berusia dua puluh tiga tahun, yang tentu saja sebagai seorang pemuda normal, selalu

berdebar-debar apabila melihat seorang gadis cantik.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ia seorang pemuda yang pada dasarnya memiliki watak romantis,suka akan keindahan, suka akan

tamasya alam yang permai, suka akan bunga yang indah dan harum, dan tentu saja bentuk tubuh seorang

dara jelita. Akan tetapi, kekuatan batinnya cukup untuk menekan semua perasaan ini dan membuat ia

tetap tenang.

Peristiwa pembunuhan di dalam rumah penginapan itu membangkitkan jiwa satrianya.

Ia mendengar keterangan sana-sini dan tahu bahwa tujuh orang pemuda itu adalah calon- calon pengikut

sayembara untuk meminang puteri Beng-kauwcu. Mendengar pula betapa pemuda-pemuda itu sudah

kegilaan akan Nona Liu Lu Sian, dara rupawan yang pada pagi hari kemarin lewat didepan rumah

penginapan.

Karena ini, diam-diam KweeSeng menghubungkan semua itu dengan pembunuhan. Agaknya karena

mereka itu tergila-gila kepada Liu Lu Sian maka malam ini menjadi korban pembunuhan keji. Entah apa

yang menjadi dasar pembunuhan , entah cemburu atau bagaimana. Namun yang pasti, untuk mencari

pembunuhnya ia harus datang menjadi tamu Beng-Kauw !

Inilah yang membuat Kwee Seng terpaksa menunda perantauannya dan bersama dengan para tamu

lainnya , ia pun melangkahkan kaki menuju ke gedung keluarga Pat-jiu Sin-ong.

Rumah gedung keluarga Liu dihias meriah. Pekarangan yang amat luas itu telah diatur menjadi ruangan

tamu, dibagian tengah agak mendalam yang letaknya lebih tinggi rauangan depan, kini dipergunakan untuk

tempat rumah dan para tamu yang terhormat atau para tamu kehormatan.

Ruangan ini disambung dengan sebuah panggung setinggi satu meter yang cukup luas dan panggung ini

diperuntukkan untuk mereka yang hendak bicara mengadakan sambutan, juga dibentuk semacam

panggung tempat main silat.

Panggung semacam ini memang lajim diadakan setiap kali ada ahli silat mengadakan sesuatu, karena

perayaan diantara ahli silat tanpa pertunjukan silat akan merupakan hal yang janggal dan mentertawakan.

Pat-jiu Sin-ong Liu Gan belum tampak di luar. Para tamu disambut oleh tiga orang sute (adik

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

seperguruan), yaitu pertama adalah Liu Mo adik kandungnya sendiri, Liu Mo berusia empat puluh tahun

lebih, sikapnya tenang dan pendiam, sinar matanya membayangkan watak yang serius (sungguh-sungguh)

dan berwibawa.

Biarpun Liu Mo memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan orang ke dua dalam

Beng-kauw, namun ia tetap sederhana dan tidak mempunyai julukan apa-apa. Di dalam Beng-kauw, ia

merupakan pembantu yang amat berharga dari kakak kandungnya dan boleh boleh dikatakan untuk

segala urusan dalam, Liu Mo inilah yang sering mewakili kakaknya.

Orang ke dua adalah Ma Thai kun. Orangnya tinggi kurus, wajahnya selalu keruh dan biarpun usianya

baru tiga puluh enam tahun, namun ia memelihara jenggot dan kelihatan lebih tua. Ia terkenal pemarah

dan wataknya keras, kepandaianya juga tinggi dan ilmu silatnya tangan kosong amat hebat.

Segala macam pukulan dipelajarinya dan kedua tangannya mengandung tenaga dalam yang amat

dahsyat. Berbeda dengan Liu Mo yang sabar dan berwibawa, orang ke tiga dari Beng-kauw ini

menyambut tamu dengan wajah gelap dan tak pernah tersenyum, juga ia memandang rendah kepada

para tamunya.

Orang ke tiga dari para wakil Ketua Beng-Kauw ini usianya hampir tiga puluh tahun, akan tetapi

wajahnya terang dan kelihatan masih muda. Dandanannya sederhana sekali, bahkan lucu karena ia

menggunakan sebuah caping (topi berujung runcing) seperti dipakai para petani atau penggembala.

Di punggungnya terselip sebatang cambuk yang biasa dipergunakan para penggembala mengatur

binatang gembalaannya! Memang murid termuda ini seorang yang ahli dalam soal pertanian dan

peternakan. Wajahnya terang dan ia menerima para tamu dengan sikap hormat sekali.

Inilah Kauw Bian seorang pemuda desa yang menjadi sute termuda dari Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Biarpun sikapnya sederhana dan seperti seorang desa, akan tetapi jangan dipandang rendah

kepandaiannya dan pecut itu sama sekali bukanlah pecut biasa melainkan senjatanya yang ampuh!

Sebagaimana lazimnya para tokoh besar, mereka ini selalu menahan "harga diri", tidak sembarangan

orang dapat menjumpai dan dalam menyambut tamu, biasanya diwakilkan dan kalau perlu barulah ia

sendiri muncul menemui tamunya.

Demikian pula Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ia pun menahan harga dirinya dan seluruh para tamu sudah

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

berkumpul semua dan tidak ada lagi yang datang baru tokoh besar ini muncul di ruangan tuan rumah.

Para tamu segera bangkit berdiri memandang ke arah tuan rumah dengan kagum.

Memang patut sekali Liu Gan menjadi seorang tokoh yang terkenal lebih tinggi daripada perawakan

seorang laki-laki biasa. Kekar dan berdiri tegak, dadanya lebar membusung, pakaiannya indah, pandang

matanya berwibawa. Kepalanya tertutup topi bulu yang terhias bulu burung rajawali.

Ketua Beng-Kau ini keluar sambil tersenyum-senyum dan menjura ke arah para tamu lalu duduk. Para

tamu juga lalu duduk kembali, akan tetapi semua mata tetap terbelalak lebar memandang gadis yang

keluar bersama, Pat-jiu Sin-Ong.

Itulah dia, gadis yang kini menarik semua pandang mata bagaikan besi sembrani menarik logam. Liu Lu

Sian, dara jelita yang pada saat itu mengenakan pakaian sutera putih terhias benang emas dan

renda-renda, merah muda. Cantik jelita bagaikan dewi khayangan!

Para muda melongo, ada yang menelan ludah, ada yang lupa mengatupkan mulutnya, bahkan ada yang

menggosok-gosok mata karena merasa dalam mimpi! Namun orang yang menjadikan para muda

terpesona itu tetap duduk dengan tegak dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir. Tapi

banyak pula yang memandang dengan hati ngeri.

Mereka semua, tua muda, sudah mendengar belaka tentang peristiwa hebat di dalam rumah penginapan,

dimana tujuh orang pendekar muda yang tergila-gila kepada gadis ini terbunuh secara aneh.

Para tamu yang duduk di ruangan kehormatan mulai bergerak menghampiri Pat-jiu Sin-ong

menghaturkan selamat, diikuti tamu-tamu lain. Pat-jiu Sin-ong menyambut pemberian selamat itu sambil

tertawa-tawa dan tidak berdiri dari bangkunya, sikap yang jelas memperlihatkan keangkuhannya.

Setelah para tamu memberi selamat, dan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba Pat-jiu

sin-ong berdiri dari bangkunya memandang ke luar dan berseru keras. "Aha, saudara muda Kwee Seng !

Kau datang juga hendak memberi selamat kepadaku? Bagus! Menggembirakan sekali. Mari ke sini, kau

mau duduk bersamaku!"

Tentu saja semua tamu menoleh ke arah luar untuk melihat tamu agung manakah yang begitu

menggembirakan Pat-jiu Sin-ong sehingga tokoh ini sampai berdiri dan berseru menyambut segembira

itu? Mereka mengira bahwa yang datang tentulah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat seorang pemuda berpakaian sastrawan yang

melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah lambat dan sikap lemah-lembut. Seorang pelajar lemah

seperti ini bagaimana bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari Pat-jiu Sin-ong yang terkenal angkuh

dan tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir di situ?

Pemuda itu bukan lain adalah Kwee Seng. Memang jarang ada orang kang-ouw mengenalnya, tetapi di

antara sedikit tokoh besar dunia kang-ouw yang tahu akan kehebatan orang muda ia adalah Pat-jiu

Sin-ong, karena Ketua Beng-kauw ini pernah bertemu dengan Kwee Seng ketika dia mengunjungi Ketua

Siauw-lim-pai, Kian Hi Hosiang yang sakti, memperlakukan pemuda ini sebagai seorang tamu agung

pula!

Inilah sebabnya maka Ketua Beng-kauw mengenal Kwee Seng dan biarpun belum membuktikan sendiri

kehebatan pemuda ini, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda yang di sambut demikian hormatnya oleh

Ketua Siauw-lim-pai, yang malah dijuluki Kim-mo-eng, tentulah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Dengan tenang dan tersenyum ramah Kwee Seng menghampiri tuan rumah menjura dengan hormat

sambil berkata, "Liu-enghiong (Orang Gagah She Liu), maafkan saya datang menggangu secawan dua

cawan arak. Terus terang saja, kebetulan lewat dan mendengar tentang keramaian di sini dan ingin

menonton.

"Akan tetapi sama sekali bukan untuk memberi selamat. Makin tinggi kedudukan makin banyak

keruwetan dan makin besar kemuliaan makin besar pula kejengkelan, apa perlunya diberi selamat?"

"Ha-ha-ha-ha! Kata-katamu ini memang cocok bagi orang yang mengejar kedudukan dan

memperebutkan kemuliaan, yang tentu saja hanya akan menemui kejengkelan dan memperbanyak

permusuhan. Akan tetapi aku menjadi koksu (guru negara) untuk membimbing pemerintahan negaraku

yang dipimpin oleh keluargaku sendiri.

"Ini namanya panggilan negara dan bangsa, kewajiban seorang gagah. Akupun tidak butuh pemberian

selamat yang semua palsu belaka, basa-basi palsu, berpura-pura untuk mengambil hati. Ha-ha-ha! Lebih

baik yang jujur seperti kau ini, Kwee-hiante. Mari duduk!"

Dengan gembira tuan rumah menggandeng tangan Kwee Seng, diajak duduk semeja dan segera Liu Gan

memerintahkan pelayan mengambil arak terbaik dari cawan perak untuk Kwee Seng.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Liu-enghiong, aku mendengar pula bahwa kau hendak mencari mantu dalam perayaan ini..."

"Ah, anakku yang ingin mencari jodoh. He, Lu Sian, perkenalkan ini sahabat baikku, Kwee Seng!"

Ketua Beng-kauw itu dengan bebas berteriak kepada puterinya. Liu Lu Sian sejak tadi memang

memperhatikan Kwee Seng yang disambut secara istimewa oleh ayahnya.

Biarpun pemuda ini gerak-geriknya halus seperti orang lemah, namun melihat sinar matanya, Lu Sian

dapat menduga bahwa Kwee Seng adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Mendengar seruan ayahnya ia lalu bangkit berdiri lalu menghampiri Kwee Seng sambil merangkapkan

kedua tangannya. "Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee), terimalah hormatku!" katanya dengan suara

merdu dan bebas, gerak-geriknya manis sama sekali tidak malu-malu atau kikuk seperti sikap gadis

biasa.

Kwee Seng sejak tadi hanya memperhatikan Liu Gan saja maka tidak tahu bahwa di ruangan itu

terdapat gadis puteri Liu Gan yang kecantikannya telah banyak pemuda tergila-gila, bahkan agaknya

yang telah menjadi sebab daripada akibat mengerikan di rumah penginapan malam kemarin.

Mendengar suara merdu ini ia menengok dan... pemuda itu berdiri terpesona, sejenak ia tidak dapat

berkata-kata, bahkan seakan-akan dalam keadaan tertotok jalan darah di seluruh tubuhnya, tak dapat

bergerak seperti patung batu! Belum pernah selama hidupnya ia terpesona oleh kejelitaan seorang wanita

seperti saat itu. Mata itu!

Bening bersih gilang-gemilang tiada ubahnya sepasang bintang kerling tajam menggores jantung kedip

mesra membuat bingung

Bulu mata lentik berseri bagai rumput panjang di pagi hari sepasang alis hitam kecil melengkung

menggeliat-geliat malas kedua ujung!

"Kwee-kongcu..." kata pula Liu Sian melihat pemuda itu diam saja seperti patung, dalam hatinya geli

bukan main.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"A... oh..., Liu-siocia (Nona Liu), tidak patut saya menerima penghormatan ini...!" jawabnya gagap

sambil cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika

ia merasa betapa angin pukulan menyambar dari arah kedua tangan gadis yang dirangkap di depan dada

itu.

Angin pukulan yang mengandung hawa panas dan yang tentu akan cukup membuat ia terjungkal dan

terluka hebat. Alangkah kecewanya hati Kwee Seng! Dara juwita ini, yang dalam sedetik telah membuat

perasaannya morat-marit, yang kecantikannya memenuhi semua seleranya, menguasai seluruh cintanya,

ternyata memiliki watak yang liar dan ganas!

Sekilas teringat lagi ia akan pembunuhan tujuh orang pemuda tak berdosa dan seketika itu Kwee Seng

merasa jantungnya sakit. Ia masih terpesona, masih kagum bukan main melihat dara jelita ini, namun

kekaguman yang bercampur kekecewaan. Maka ia pun cepat mengarahkan tenaga ke arah ke dua

tangannya yang membalas penghormatan.

"Aiiihhh...! Mengapa Kwee-kongcu demikian sungkan? Penghormatan kami sudah selayaknya!" kata

Liu Lu Sian yng berseru untuk menutupi kekagetannya ketika angin pukulan yang keluar dari pengerahan

sin-kang di kedua tangannya membalik seperti angin meniup benteng baja.

Gadis ini sambil tersenyum manis menyambar guci arak pilihan dari tangan pelayan bersama sebuah

cawan perak, lalu menuangkan arak ke dalam cawan itu. Cawan sudah penuh, terlampau penuh akan

tetapi anehnya, arak di dalam cawan tidak luber, tidak membanjir keluar. Permukaan arak melengkung

ke atas berbentuk telur.

Dengan tangan kanan memegang cawan yang terisi arak itu Liu Lu Sian berkata,"Kehadiran

Kwee-kongcu merupakan kehormatan besar, harap sudi menerima arak sebagai tanda terima kasih

kami."

Kembali Kwee Seng tertegun. Dara juwita ini tidak saja cantik seperti bidadari, akan tetapi juga

memiliki kepandaian hebat. Sin-kang yang diperlihatkan kali ini lebih halus, sehingga bagi orang biasa

tentu merupakan perbuatan yang tak masuk akal, seperti sihir.

Akan tetapi makin kecewalah hati Kwee Seng karena ia menganggap bahwa gadis ini terlalu binal dan

suka membuat malu orang lain. Kalau yang menerima arak sepenuh itu tidak memiliki sin-kang yang

tinggi, apakah tidak akan mendatangkan malu karena araknya pasti akan tumpah semua begitu gadis ini

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

melepaskan pegangannya?

"Siocia terlampau sungkan. Terlalu besar kehormatan ini bagi saya..." Kwee Seng menerima cawan

sambil mengerahkan tenaganya sehingga ketika Lu Sian melepas cawan itu, arak yang terlalu penuh tetap

melengkung di atas cawan tidak tumpah sedikitpun juga.

Akan tetapi jantung Kwee Seng berdegup keras karena ketika ia menerima cawan tadi jari tangannya

bersentuhan dengan kulit tangan yang halus sekali, sementara itu, hidungnya mencium bau harum

semerbak yang luar biasa, bau harum bermacam bunga yang baru sekarang ia menciumnya karena tadi ia

terlampau terpesona oleh kecantikan Lu Sian.

Ia tadi sudah berhati-hati sekali, sebagai seorang yang sopan, agar jari tangannya tidak menyentuh jari

gadis itu, akan tetapi toh bersentuhan, maka ia tahu bahwa gadis itulah yang sengaja menyentuhkan

tangannya!

Berbarengan dengan datangnya degup jantung mengeras dan ganda harum yang memabokkan otak,

timbul hasrat hati Kwee Seng untuk memamerkan kepandaiannya pula di depan gadis jelita yang

berlagak ini.

Ia segera menuangkan arak ke dalam mulutnya, mengangkat cawan tinggi ke atas mulut dan

menuangkannya. Akan tetapi, sampai cawan itu membalik, araknya tetap tidak mau tumpah ke dalam

mulut ! Arak itu seakan-akan sudah membeku di dalam cawan!

“Ah, maaf... maaf... saya memang tidak bisa minum arak baik!" kata Kwee Seng sambil menurunkan lagi

cawannya. Tiba-tiba ia membuka sedikit mulutnya dan dari cawan yang sudah berdiri lagi itu tiba-tiba

meluncur arak seperti pancuran kecil menuju ke atas dan langsung memasuki cawan itu menjadi kering!

"Wah, kehadiran Kwee-kongcu benar-benar menggembirakan. Kalau tadi secawan arak untuk

penghormatan kami, sekarang kuharap kongcu sudi menerima secawan lagi, khusus dariku!" kata pula Lu

Sian sambil menuangkan lagi arak ke dalam cawan kosong, kali ini lebih penuh daripada tadi, lalu

memberikannya kepada Kwee Seng.

No comments:

Post a Comment