SULING MAS
Cipt: Kho Ping Ho
Pada jaman lima wangsa ( th.907- 960 ) , kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi
Yu-Nan sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain,
juga oleh kerajaan Sung yang kemudian di bangun.
Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun ( semi ) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal
di dunia kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut
di sebut pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, Datang membanjiri Nan-cao.
Apakah gerangan yang menarik para kelana dan pe tualangan itu mendatangi Nan-cao? Ada pula hal
yang menarik mereka berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh.
Pertama adalah pengangkatan Beng-kauw ( Ketua Agama Beng-kauw ) sebagai Koksu ( Guru Negara
) Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang
sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang
bernama Liu Gan dan berju-luk Pat-jiu Sin-ong ( Raja Sakti Berlengan Delapan ) Itu ? Pada masa itu,
Pat-jiu Sin-ong Liu gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya, jarang
menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri
Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidaklah mengherankan kalau apabila kini
tokah-tokoh dari partai persilatan besar seperti Siauw lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain
mengirim utusan untuk menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan
Nan-cao.
Adapun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai
penjuru dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong
hendak mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh !
Tentu saja hal ini menggegerkan dunia kaum muda, menggerakan hati mereka untuk ikut datang
mempergunakan kesempatan baik mengadu untung. Siapa tahu ! Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng
Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya,
juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis jelita ini telah berani
menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera para ketua
perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan !
Tentu saja para pemuda inipun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana ujud rupa dan
bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang diantara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang
pernah bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutma sekali tentang kecantikannya, yang
menjadi buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi
Liu Lu Sian.
"Rambutnya Halus licin laksana sutera harum melambai, meraih cinta asmara ! Mata indah, kerling tajam
menggunting jantung, bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung ! Hidung mungil, halus laksana
lilin diraut, cuping tipis bergerak mesra menambah patut ! Hangat lembut, merah basah juwita Gendewa
terpentang berisi sari madu Puspita !"
Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah
melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya ! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian
seorang dara jelita.
Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak) Namun ilmu silatnya amat
tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya
sayang bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa
kasih sayang ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak
aneh, riang gembira, lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa
saja, tidak mau tunduk kepada siapapun juga.
Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri
ketua Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak
gunung yang amat tinggi dan sukar didapatkan.
Dara itu puteri tunggal Pat-Jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja menghendaki seorang mantu pilihan,
baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, maupun tingkat kepandainnya. Bahkan kabarnya dara itu
hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu mengalahkan dirinya ! Namun, para muda
yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang tertarik oleh harum dan manisnya
madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biarpun bahaya mengancam nyawa.
Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya,
menyatakan harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam dirumah-rumah penginapan di kota raja
sambil menanti saat dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu
Sin-ong beberapa hari lagi, dimana selain hendak ikut memberi selamat, merekapun berharap akan dapat
menyaksikan kehebatan dara yang mereka percakapkan dan yang kembang mimpi mereka setiap malam.
Liu Lu Sian bukan tidak tahu akan hal ini. Gadis yang manja ini maklum sepenuhnya bahwa ia menjadi
bahan percakapan dan pujian. Maka pada pagi hari itu, dua hari sebelum ayahnya menerima para tamu,
a sengaja mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya
mengelilingi kota raja ! Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua
pipinya yang bagaikan pauh dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum.
Rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung dibelakang
punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali dapat
dilingkari jari-jari tangan agaknya, terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan
kuning emas, ketat mancetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak
kecil.
Pengait baju terbuat daripada benang emas yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutera biru yang
bergerak-gerak bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutera putih yang seakan membayangkan
sepasang kaki indah, padat berisi dan sempurna lekuk-lekungnya, diakhiri dengan sepasang sepatu hitam
yang berlapis perak. Cantik tak terlukiskan ! Menyaingi bidadari sorga dengan gerak tubuh yang lemah
gemulai dan elok, akan tetapi rangka pedang yang tergantung dipinggangnya membuat ia lebih patut
menjadi seorang Dewi Kwan Im Pouwsat !
Kuda putih tunggangannya berlari congklang dan Lu Sian memandang lurus ke depan namun ujung
matanya menyambarkan kerling tajam kesana-sini, terutama diwaktu kudanya lewat depan rumah-rumah
penginapan dimana para tamu muda berjajar depan pintu dengan mata jalang dan mulut ternganga,
terpesona mengagumi dewi yang baru lewat.
Setelah dara ayu itu lenyap bayangannya, ributlah para muda teruna itu. Makin parah penyakit asmara
menggerogoti jantung. Makin ramai percakapan mereka tentang Si Cantik manis. Rindu dendam dan
harapan mereka yang terbawa dari rumah ratusan bahkan ribuan li jauhnya terpenuhi sudah. Mereka
dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dewi pujaan hati mereka. Dan betapa tidak
mengecewakan pemandangan itu. Bahkan melebihi semua dugaan dan mimpi. Tergila-gila belaka mereka
setelah Lu Sian Lewat di atas kudanya.
"Aduh ..., mati aku ...! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama
lagi...!" Seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas
panjang.
"Lebih baik mati di bawah kaki si jelita dari pada pulang bertangan hampa !" sambung pemuda ke dua.
"Siapa tahu, rejekiku besar tahun ini menurut perhitungan peramal ! Jodohku seorang gadis bermata
bintang. Dan matanya...! Ah , matanya..., Kalah bintang kejora !" kata pemuda lain.
"Mulutnya yang hebat ! Amboooiii mulutnya...ah, ingin aku menjadi buah apel agar dimakannya dan
berkenalan dengan bibir itu. Aduhhh...!"
Bermacam-macam seruan para muda itu yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati
masing-masing yang menggelora. Sudah lajim kalau sekumpulan orang muda bercakap-cakap, mereka
lebih berani manyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan
kadang-kadang terdengar kata-kata yang kurang sopan.
Apalagi para muda yang tergila-gila pada seorang gadis jelita ini adalah orang-orang kang-ouw,
pemuda-pemuda kelana kelana dan petualang. Banyak sudah tempat mereka jelajahi, cukup sudah
dara-dara jelita mereka saksikan, namun baru sekali ini mereka menjumpai dara secanti k Lu Sian.
Melampaui semua kembang mimpi.
Tujuh orang pemuda yang berkumpul dalam sebuah rumah penginapan itu adalah pendekar-pendekar
muda dari beberapa partai. Seperti biasa, karena merasa segolongan dan setujuan, mereka lekas
bersahabat dan selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka
tiada habisnya memuji-muji dan membicarakan diri Liu Lu Sian yang diam-diam mereka perebutkan.
Setelah Lu Sian yang lewat di depan rumah penginapan itu, sampai jauh malam para pemuda ini bicara
tentang Lu Sian dan masing-masing menyatakan harapan menjadi orang yang terpilih dengan
mengemukakan dan menonjolkan keistimewaan masing-masing.
"Sebagai puteri Beng-kauw, tentu kepandaiannya amat tinggi dan belum tentu aku mampu
menandinginya. Akan tetapi, ilmu golokku yang terkenal dan nama Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru
memiliki keindahan yang melebihi keindahan seni tari manapun juga. Siapa tahu, keindahan seni
permainan golokku akan menawan hatinya !" kata pemuda muka putih dengan pandang mata merenung
penuh harapan dan di depan matanya terbayanglah mulut manis Lu Sian, karena dialah yang jadi
tergila-gila oleh mulut manis itu dan ingin menjadi buah apel !
"Aku tidak punya kedudukan, orang tuaku miskin dan akupun tidak berpendidikan, tidak pandai tulis
baca. Akan tetapi, biarpun ilmu silatku mungkin tidak setinggi dia, aku memiliki tenaga besar yang boleh
diukur dengan tenaga siapapun juga." kata pemuda tinggi besar yang matanya lebar.
"Mudah-mudahan nona Lu Sian sudi memandang nama besar Kun-lun-pai sehinga aku sebagai murid
kecil Kun-lun-pai akan menarik perhatiannya." kata pemuda ke tiga yang tampan juga. Demikianlah,
tujuh orang pemuda itu menonjolkan keistimewaan masing-masing dengan harapan dialah yang akan
terpilih.
Lewat tengah malam barulah mereka memasuki kamar masing-masing, namun tentu saja mereka tak
dapat tidur, karena di depan mata mereka selalu terbayang wajah Liu Lu Sian. Maka ketika terdengar
ada tamu baru datang dan disambut oleh pengurus rumah penginapan, mereka bertujuh semua keluar dan
melihat tamu seorang pemuda berpakaian indah, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang memasuki
ruang dalam.
"Maaf, Kongcu (tuan muda), bukan kami kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi, kamar yang patut
untuk Kongcu sudah penuh semua. Kecuali kalau diantara para Enghiong (Pendekar) yang terhormat
membagi kamarnya..." Dengan ragu-ragu dan penuh harap pengurus penginapan itu memandang ke arah
tujuh pemuda yang sudah keluar dari kamar masing-masing
Tujuh orang muda itu memandang Si Pendatang baru penuh perhatian. Pemuda ini berpakaian seperti
orang terpelajar, gerak-geriknya halus, sama sekali tidak membayangkan gerak seorang ahli silat.
Otomatis orang pendekar muda itu memandang rendah.
Mana ada seorang pendekar suka membagi kamar dengan kutu buku yang tentu akan menjemukan dan
bicaranya tentu soal kitab-kitab dan sajak belaka ? Pemuda itu agaknya maklum akan pandang mata
mereka, maka cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, dan memberi hormat berkata
dengan penuh kesopanan.
"Harap Cu-wi Enghiong (Tuan-tuan Pendekar Sekalian) sudi memberi maaf kepada siawte (aku yang
muda). Tentu saja siawte tidak berani menggangu para Enghiong, akan tetapi barangkali ada diantara
para Cu-wi yang sudi membagi kamar..." Ia berhenti bicara melihat mereka mengerutkan kening, dan
menanti jawaban. Ketika tidak ada jawaban datang, ia tersenyum.
"Saudara siapakah dan dari golongan mana ? Apakah tamu dari Beng-kauwcu Liu-locianpwe (Orang
Tua Gagah she Ketua Beng-kauw) ?" tanya pemuda tinggi besar yang bertenaga gajah.
"Siauwte she Kwee bernama Seng, orang lemah seperti siauwte yang setiap hari menekuni huruf-huruf
kuno, tidak dari golongan mana-mana dan siauwte hanya pelancong biasa."
Hmm, maaf, kamarku sempit sekali."jawab si Tinggi Besar kehilangan perhatian.
"Kamarku juga sempit." jawab orang ke dua.
"Aku tidak biasa tidur berteman." kata orang ke tiga.
"Maaf, maaf, memang siauwte tidak berani mengganggu Cu-wi. Eh, Lopek, kau tadi bilang tentang
kamar yang patut, apakah masih ada kamar yang tidak patut ?" Kwee Seng menoleh kearah pengurus
No comments:
Post a Comment