Thursday, 11 March 2010

SULING MAS

Cipt: Kho Ping Ho

Pada jaman lima wangsa ( th.907- 960 ) , kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi

Yu-Nan sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain,

juga oleh kerajaan Sung yang kemudian di bangun.

Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun ( semi ) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal

di dunia kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut

di sebut pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, Datang membanjiri Nan-cao.

Apakah gerangan yang menarik para kelana dan pe tualangan itu mendatangi Nan-cao? Ada pula hal

yang menarik mereka berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh.

Pertama adalah pengangkatan Beng-kauw ( Ketua Agama Beng-kauw ) sebagai Koksu ( Guru Negara

) Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang

sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang

bernama Liu Gan dan berju-luk Pat-jiu Sin-ong ( Raja Sakti Berlengan Delapan ) Itu ? Pada masa itu,

Pat-jiu Sin-ong Liu gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya, jarang

menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri

Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidaklah mengherankan kalau apabila kini

tokah-tokoh dari partai persilatan besar seperti Siauw lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain

mengirim utusan untuk menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan

Nan-cao.

Adapun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai

penjuru dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong

hendak mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh !

Tentu saja hal ini menggegerkan dunia kaum muda, menggerakan hati mereka untuk ikut datang

mempergunakan kesempatan baik mengadu untung. Siapa tahu ! Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng

Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya,

juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis jelita ini telah berani

menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera para ketua

perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan !

Tentu saja para pemuda inipun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana ujud rupa dan

bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang diantara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang

pernah bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutma sekali tentang kecantikannya, yang

menjadi buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi

Liu Lu Sian.

"Rambutnya Halus licin laksana sutera harum melambai, meraih cinta asmara ! Mata indah, kerling tajam

menggunting jantung, bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung ! Hidung mungil, halus laksana

lilin diraut, cuping tipis bergerak mesra menambah patut ! Hangat lembut, merah basah juwita Gendewa

terpentang berisi sari madu Puspita !"

Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah

melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya ! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian

seorang dara jelita.

Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak) Namun ilmu silatnya amat

tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya

sayang bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa

kasih sayang ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak

aneh, riang gembira, lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa

saja, tidak mau tunduk kepada siapapun juga.

Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri

ketua Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak

gunung yang amat tinggi dan sukar didapatkan.

Dara itu puteri tunggal Pat-Jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja menghendaki seorang mantu pilihan,

baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, maupun tingkat kepandainnya. Bahkan kabarnya dara itu

hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu mengalahkan dirinya ! Namun, para muda

yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang tertarik oleh harum dan manisnya

madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biarpun bahaya mengancam nyawa.

Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya,

menyatakan harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam dirumah-rumah penginapan di kota raja

sambil menanti saat dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu

Sin-ong beberapa hari lagi, dimana selain hendak ikut memberi selamat, merekapun berharap akan dapat

menyaksikan kehebatan dara yang mereka percakapkan dan yang kembang mimpi mereka setiap malam.

Liu Lu Sian bukan tidak tahu akan hal ini. Gadis yang manja ini maklum sepenuhnya bahwa ia menjadi

bahan percakapan dan pujian. Maka pada pagi hari itu, dua hari sebelum ayahnya menerima para tamu,

a sengaja mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya

mengelilingi kota raja ! Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua

pipinya yang bagaikan pauh dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum.

Rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung dibelakang

punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali dapat

dilingkari jari-jari tangan agaknya, terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan

kuning emas, ketat mancetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak

kecil.

Pengait baju terbuat daripada benang emas yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutera biru yang

bergerak-gerak bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutera putih yang seakan membayangkan

sepasang kaki indah, padat berisi dan sempurna lekuk-lekungnya, diakhiri dengan sepasang sepatu hitam

yang berlapis perak. Cantik tak terlukiskan ! Menyaingi bidadari sorga dengan gerak tubuh yang lemah

gemulai dan elok, akan tetapi rangka pedang yang tergantung dipinggangnya membuat ia lebih patut

menjadi seorang Dewi Kwan Im Pouwsat !

Kuda putih tunggangannya berlari congklang dan Lu Sian memandang lurus ke depan namun ujung

matanya menyambarkan kerling tajam kesana-sini, terutama diwaktu kudanya lewat depan rumah-rumah

penginapan dimana para tamu muda berjajar depan pintu dengan mata jalang dan mulut ternganga,

terpesona mengagumi dewi yang baru lewat.

Setelah dara ayu itu lenyap bayangannya, ributlah para muda teruna itu. Makin parah penyakit asmara

menggerogoti jantung. Makin ramai percakapan mereka tentang Si Cantik manis. Rindu dendam dan

harapan mereka yang terbawa dari rumah ratusan bahkan ribuan li jauhnya terpenuhi sudah. Mereka

dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dewi pujaan hati mereka. Dan betapa tidak

mengecewakan pemandangan itu. Bahkan melebihi semua dugaan dan mimpi. Tergila-gila belaka mereka

setelah Lu Sian Lewat di atas kudanya.

"Aduh ..., mati aku ...! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama

lagi...!" Seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas

panjang.

"Lebih baik mati di bawah kaki si jelita dari pada pulang bertangan hampa !" sambung pemuda ke dua.

"Siapa tahu, rejekiku besar tahun ini menurut perhitungan peramal ! Jodohku seorang gadis bermata

bintang. Dan matanya...! Ah , matanya..., Kalah bintang kejora !" kata pemuda lain.

"Mulutnya yang hebat ! Amboooiii mulutnya...ah, ingin aku menjadi buah apel agar dimakannya dan

berkenalan dengan bibir itu. Aduhhh...!"

Bermacam-macam seruan para muda itu yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati

masing-masing yang menggelora. Sudah lajim kalau sekumpulan orang muda bercakap-cakap, mereka

lebih berani manyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan

kadang-kadang terdengar kata-kata yang kurang sopan.

Apalagi para muda yang tergila-gila pada seorang gadis jelita ini adalah orang-orang kang-ouw,

pemuda-pemuda kelana kelana dan petualang. Banyak sudah tempat mereka jelajahi, cukup sudah

dara-dara jelita mereka saksikan, namun baru sekali ini mereka menjumpai dara secanti k Lu Sian.

Melampaui semua kembang mimpi.

Tujuh orang pemuda yang berkumpul dalam sebuah rumah penginapan itu adalah pendekar-pendekar

muda dari beberapa partai. Seperti biasa, karena merasa segolongan dan setujuan, mereka lekas

bersahabat dan selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka

tiada habisnya memuji-muji dan membicarakan diri Liu Lu Sian yang diam-diam mereka perebutkan.

Setelah Lu Sian yang lewat di depan rumah penginapan itu, sampai jauh malam para pemuda ini bicara

tentang Lu Sian dan masing-masing menyatakan harapan menjadi orang yang terpilih dengan

mengemukakan dan menonjolkan keistimewaan masing-masing.

"Sebagai puteri Beng-kauw, tentu kepandaiannya amat tinggi dan belum tentu aku mampu

menandinginya. Akan tetapi, ilmu golokku yang terkenal dan nama Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru

memiliki keindahan yang melebihi keindahan seni tari manapun juga. Siapa tahu, keindahan seni

permainan golokku akan menawan hatinya !" kata pemuda muka putih dengan pandang mata merenung

penuh harapan dan di depan matanya terbayanglah mulut manis Lu Sian, karena dialah yang jadi

tergila-gila oleh mulut manis itu dan ingin menjadi buah apel !

"Aku tidak punya kedudukan, orang tuaku miskin dan akupun tidak berpendidikan, tidak pandai tulis

baca. Akan tetapi, biarpun ilmu silatku mungkin tidak setinggi dia, aku memiliki tenaga besar yang boleh

diukur dengan tenaga siapapun juga." kata pemuda tinggi besar yang matanya lebar.

"Mudah-mudahan nona Lu Sian sudi memandang nama besar Kun-lun-pai sehinga aku sebagai murid

kecil Kun-lun-pai akan menarik perhatiannya." kata pemuda ke tiga yang tampan juga. Demikianlah,

tujuh orang pemuda itu menonjolkan keistimewaan masing-masing dengan harapan dialah yang akan

terpilih.

Lewat tengah malam barulah mereka memasuki kamar masing-masing, namun tentu saja mereka tak

dapat tidur, karena di depan mata mereka selalu terbayang wajah Liu Lu Sian. Maka ketika terdengar

ada tamu baru datang dan disambut oleh pengurus rumah penginapan, mereka bertujuh semua keluar dan

melihat tamu seorang pemuda berpakaian indah, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang memasuki

ruang dalam.

"Maaf, Kongcu (tuan muda), bukan kami kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi, kamar yang patut

untuk Kongcu sudah penuh semua. Kecuali kalau diantara para Enghiong (Pendekar) yang terhormat

membagi kamarnya..." Dengan ragu-ragu dan penuh harap pengurus penginapan itu memandang ke arah

tujuh pemuda yang sudah keluar dari kamar masing-masing

Tujuh orang muda itu memandang Si Pendatang baru penuh perhatian. Pemuda ini berpakaian seperti

orang terpelajar, gerak-geriknya halus, sama sekali tidak membayangkan gerak seorang ahli silat.

Otomatis orang pendekar muda itu memandang rendah.

Mana ada seorang pendekar suka membagi kamar dengan kutu buku yang tentu akan menjemukan dan

bicaranya tentu soal kitab-kitab dan sajak belaka ? Pemuda itu agaknya maklum akan pandang mata

mereka, maka cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, dan memberi hormat berkata

dengan penuh kesopanan.

"Harap Cu-wi Enghiong (Tuan-tuan Pendekar Sekalian) sudi memberi maaf kepada siawte (aku yang

muda). Tentu saja siawte tidak berani menggangu para Enghiong, akan tetapi barangkali ada diantara

para Cu-wi yang sudi membagi kamar..." Ia berhenti bicara melihat mereka mengerutkan kening, dan

menanti jawaban. Ketika tidak ada jawaban datang, ia tersenyum.

"Saudara siapakah dan dari golongan mana ? Apakah tamu dari Beng-kauwcu Liu-locianpwe (Orang

Tua Gagah she Ketua Beng-kauw) ?" tanya pemuda tinggi besar yang bertenaga gajah.

"Siauwte she Kwee bernama Seng, orang lemah seperti siauwte yang setiap hari menekuni huruf-huruf

kuno, tidak dari golongan mana-mana dan siauwte hanya pelancong biasa."

Hmm, maaf, kamarku sempit sekali."jawab si Tinggi Besar kehilangan perhatian.

"Kamarku juga sempit." jawab orang ke dua.

"Aku tidak biasa tidur berteman." kata orang ke tiga.

"Maaf, maaf, memang siauwte tidak berani mengganggu Cu-wi. Eh, Lopek, kau tadi bilang tentang

kamar yang patut, apakah masih ada kamar yang tidak patut ?" Kwee Seng menoleh kearah pengurus

No comments:

Post a Comment