Thursday, 11 March 2010

bagian ke tiga

Seketika terbelalak mata Kwee Seng kedua pipinya menjadi merah dan sinar matanya berkilat. Lenyap

seketika pesona yang menguasai dirinya. Gadis ini benar-benar terlalu liar, aneh, dan ganas! Ia melihat

betapa tadi dari tangan gadis itu berkelebat sinar putih memasuki cawan dan sebagai seorang pendekar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sakti, ia maklum apa artinya itu.

Arak kali ini dicampuri semacam obat bubuk yang biarpun sedikit sekali, namun ia dapat menduga tentu

amat hebat akibatnya kalau terminum olehnya. Ia tahu bahwa gadis ini tidak sengaja mencelakakannya,

hanya untuk menguji, akan tetapi cara ujian yang amat berbahaya!

"Nona terlalu menghormat ...!" jawabnya dan ia menerima cawan itu. Begitu cawan diterimanya, ia

berseru, "Ah, nona terlalu banyak mengisi araknya...!" dan tiba-tiba, biarpun cawan itu dipegangnya

lurus-lurus, isi cawan berhamburan keluar dan tumpah semua sampai habis. Anehnya, tangan Kwee Seng

yang memegang sawan sama sekali tidak basah karena ara itu tumpahnya "melayang" ke depan dan

sebaliknya malah membasahi sebagian celana dan sepatu si jelita!

"Ah, maaf.. maaf..!" kata Kwee Seng sambil menjura penuh hormat.

"Kwee-kongcu terlalu merendah ...!" Sepasang pipi Lu Sian menjadi merah sekali dan kilatan matanya

membayangkan kemarahan ketika ia menjura dan mengundurkan diri kembali ke bangkunya sambil

mengusap noda arak dengan sapu tangannya.

Peristiwa aneh ini hanya disaksikan oleh beberapa orang tamu kehormatan yang duduk berdekatan,

akan tetapi para tamu yang jauh tidak melihat jelas, dan hanya mengira bahwa pemuda pelajar itu amat

canggung sehingga menumpahkan arak yang disuguhkan orang kepadanya. Namun, banyak yang merasa

iri hati melihat betapa Si Bidadari sampai dua kali memberi suguhan arak kepada pemuda lemah itu.

"Ha-ha-ha, lama tak jumpa, kau makin hebat, Kwee-hiante! Mari, mari kita minum sampai mabok!"

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong mengajak pemuda itu menghadapi meja penuh

hidangan. "Liu-enghiong tentu maklum bahwa aku tidak biasa minum arak lebih dari tiga cawan," bantah

Kwee Seng.

"Ha-ha-ha!" Ocehan burung yang tak patut didengar! Aku percaya, biarpun habis tiga guci, orang

macam kau mana bisa mabok ? Ha-ha-ha marilah, tak usah sungkan. Kita orang sendiri!"

Karena sikap tuan rumah ini setulus hatinya, Kwee Seng terpaksa melayani. Ia maklum betapa suara

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

tuan rumah yang keras ini terdengar semua orang dan ia sudah melihat sinar mata iri dilempar orang,

terutama kaum mudanya, ke arahnya. Ia memang tidak suka minum arak terlalu banyak, akan tetapi kali

ini hatinya sedang rusak dan kacau.

Harus ia akui bahwa ia tertarik oleh kecantikan Liu Lu Sian yang luar biasa, dan ia tahu bahwa hatinya

sudah siap mengaku cinta. Seorang dewa sekalipun akan jatuh hati berhadapan dengan Lu Sian! Akan

tetapi disamping perasaan yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya, terselip rasa nyeri yang

membuat hatinya perih, yaitu kenyataan bahwa gadis yang menjatuhkan hatinya ini memiliki watak yang

liar dan ganas, sama sekali berlawanan dengan pendiriannya.

Karena perasaan yang bertentangan antara perasaan cinta dan benci inilah maka Kwee Seng menjadi

seperti orang nekat dan ia menerima terus setiap kali Pat-jiu Sin-ong menyuguhkan arak. Sebentar saja ia

sudah minum arak tua belasan cawan banyaknya!

"Lu Sian, hayo kau gembirakan hati para tamu kita dengan tarian pedang!" tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong

berseru memerintah puterinya sambil tertawa-tawa karena tokoh inipun sudah terpengaruh hawa arak.

Lu Sian tersenyum mengangguk, lalu bangkit berdiri dan dengan lenggang yang dapat mengayun hati

para muda yang memandangnya, gadis ini ini berjalan menuju ke tengah panggung terbuka. Tepuk tangan

riuh gemuruh menyambutnya. Lu Sian menjura dengan hormat sambil berseru, suaranya merdu nyaring

mengatasi keriuhan tepuk tangan itu.

"Permainanku masih amat dangkal, harap cu-wi jangan metertawakan!" Setelah berkata demikian, Lu

Sian menggerakan tangannya dan .... dalam pandangan mereka yang ilmu silatnya kurang tinggi, gadis itu

tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan kesana kemari dibungkus sinar putih

berkilauan bergulung-gulung dan berkilat-kilat.

Dari sana-sini terdengar seruan kagum, yang muda-muda kagum akan keindahan ilmu silat pedang yang

benar-benar merupakan tarian luar biasa itu, adapun golongan tua kagum karena mereka melihat di

dalam gerakan yang indah ini tersembunyi kekuatan yang dahsyat, setiap kelebatan pedang yang begitu

indah tampaknya sebetulnya mengandung jurus maut yang tidak mudah dilawan. Dengan bukti kehebatan

gadis ini makin tunduklah mereka akan kelihaian dan nama besar Pat-jiu Sin-ong.

Lu Sian sengaja mainkan Hwa-kiamhoat (Ilmu Pedang Kembang) yang indah untuk memamerkan

kepandaian dan kecantikannya. Ia bersilat sampai lima puluh jurus dan ketika berhenti di tengah

panggung sambil berdiri tegak, ia tampak gagah dan cantik jelita, dengan sepasang pipi kemerahan

karena denyut darahnya agak kencang setelah bersilat tadi.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Bibirnya tersenyum-senyum, matanya yang tajam berseri-seri menyambut tepuk tangan yang

seakan-akan hendak merobohkan panggung buatan itu. Akan tetapi begitu Lu Sian kembali duduk di

tempatnya, berkelebatlah bayangan orang dan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun sudah berdiri di

atas panggung.

Gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya menandakan bahwa ia seorang yang berkepandaian

tinggi, sedangkan pakaian dan cara ia menggelung rambut ke atas menyatakan bahwa ia seorang

pendekar To atau yang disebut tosu. Di punggungnya tergantung sebuah pedang.

Tosu ini terdengar lantang suaranya setelah keadaan tadi kembali sunyi karena terhentinya tepuk tangan.

Sambil menjura ke arah Pat-jiu Sin-ong, tosu itu berkata, "Kauwcu (Ketua Agama), pinto (aku) Ang Sin

Tojin dari Kn-lun-pai, merasa kagum akan kebesaran nama Pat-jiu Sin-ong, dan sengaja pinto diutus

oleh ketua kami memberi selamat.

Akan tetapi tidak nyana bahwa Kawcu dengan puteri Kauwcu menimbulkan hal-hal yang tidak baik!

Kauwcu memamerkan kepandaian dan kecantikan puteri Kauwcu, ada kabar hendak menggunakan

kesempatan ini mencarikan jodoh bagi puteri Kauwcu. Hal ini sudah sewajarnya. Aka tetapi mengapa

banyak pemuda tidak berdosa yang tergila-gila kepada puteri Kawcu menemui kematian yang penuh

penasaran?

Sekarang, Kauwcu tidak menyelidiki dan membikin terang perkara itu, malah Kauwcu menambah

pengaruh agar para pemuda makin tergila-gila. Apakah sesungguhnya kecantikan yang gilang-gemilang

seperti puteri Kauwcu? Kecantikan hanyalah timbul dari kelemahan batin melalui pandang mata,

sesungguhnya palsu adanya.

Kecantikan hanya terbatas sampai di kulit, namun siapa tahu isi hati yang tersembunyi di balik

kecantikan. Pat-jiu Sin-ong, Pinto kehilangan seorang anak murid Kun-lun yang terbunuh secara tidak

wajar, terpaksa mohon penjelasan?"

Seketika tegang keadaan di situ. Terang bahwa tosu ini menuntut kematian muridnya, dan sekaligus

mencela keadaan Beng-kauw dengan adanya kematian tujuh orang pemuda dan mencela pula pameran

kecantikan dan kepandaian Liu Lu Sian! Keadaan seketika menjadi sunyi karena semua orang menanti

dengan hati berdebar.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Sambil tersenyum Pat-jiu Sin-ong berdiri dari bangkunya, akan tetapi tidak mendekati Ang Sin To Jin.

Sambil bertolak pinggang ketua Beng-Kauw yang tinggi besar ini bertanya, "Tosu, Kau ini apanya Ang

Kun To Jin ?"

"Beliau adalah Suhengku dan Pinto hanyalah murid kedua dari suhu."

Pat Jiu Sin Ong tiba-tiba tertawa sambil menengadahkan mukanya ke atas. "Heh, Tosu mentah! Kau

kira kematian bocah-bocah tolol itu adalah perbuatanku atau perbuatan anakku?"

"Pinto tak berani menuduh siapapun juga, akan tetapi setidaknya peristiwa maut itu terjadi karena

Kauwcu berhasrat memilih mantu karena kecantikan putrimu dan tentu dilakukan oleh seorang dari

Beng-kauw! Karena itu ketuanya harus bertanggung jawab!"

"Ha-ha, bertanggung jawab bagaimana?"

"Kauwcu harus dapat menangkap pembunuh itu dan menghukumnya mati di depan kami semua.

Kemudian Kauwcu lakukan pemilihan calon mantu yang tepat dan tidak banyak menimbulkan korban,

pilihlah mantu yang cocok dan karena ini urusan Kauwcu, terserah, asal tidak secara sekarang ini yang

membikin gila banyak orang muda tak berdosa."

"Wah, lagaknya! Kalau aku tidak menuruti permintaanmu itu, bagaimana?"

"Hmmmmm, kalau begitu, berarti Kauwcu tidak peduli akan kematian murid Kun-lun-pai yang menjadi

tamu di sini, dan hal itu tentu saja Pinto tidak dapat tinggal diam saja?"

"Habis, kau mau apa, Tosu mentah?"

"Pinto terpaksa menuntut balas atas kematian murid, dan melupakan kebodohan, minta pelajaran dari

Beng-Kauwcu Pat-jiu Sin-ong!" Dengan tegak berdiri, Tosu itu siap menghadapi pertandingan.

"Tosu sombong, berani kau menghina ketua kami?" Tiba-tiba Ma Thai Kun yang bertubuh jangkung

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kurus sudah melompat ke atas panggung, tangannya begerak memukul ke arah Ang Sin Tojin. Gerakan

Ma Thai Kun cepat sekali sehingga kejadian yang tak tersangka-sangka itu tidak dapat ditunda lagi.

Pukulannya hebat, mengeluarkan angin bersiutan dan menuju ke arah dada tosu kun-lun-pai itu.

Ang Sin Tojin adalah murid kedua dari Ketua Kun-lun-pai, Kim Gan Sian jin, tentu saja ilmu

kepandaiannya sudah amat tinggi dan karena itu pula ia tadi berani mengeluarkan tantangan terhadap

ketua Beng-kauw. Kini melihat seorang tinggi kurus bermuka hitam telah berada di depannya dan

mengirim pukulan maut, ia pun cepat menggerakkan tangannya menangkis, sambil mengarahkan Sin-kang

(tenaga sakti).

"Dukkkkk!" Dua tangan mengandung tenaga sakti. Ma Thai Kun masih berdiri setengah membungkuk,

tubuhnya tidak bergoyang. Akan tetapi akibat benturan kedua lengan itu membuat Ang-sin to jin

terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah.

Diam-diam tosu Kun-lun-pai ini terkejut bukan main. Harus diakui tenaga sakti Si Muka Hitam ini hebat

sekali, sungguhpun tidak sampai menyebabkan ia terluka parah, namun cukup menggempur

kuda-kudanya dan membuat ia terhuyung-huyung.

"Ji-sute (Adik Seperguruan ke Dua), mundurlah! Siapa yang mencari perkara dengan aku dan anakku,

biarlah aku menghadapinya sendiri!" Pat-jiu Sin-ong menegur adiknya. Ma Thai Kun mendengus marah,

lalu mengundurkan diri.

"Ang Sin Tojin, apakah kau masih tidak mau menarik kembali tuntutanmu?"

“Seorang laki-laki sekali bicara dipegang sampai mati!" jawab tosu itu dengan suara ketus.

"Ah, ah, benar-benar tosu Kun-lun-pai keras kepala. Eh, tosu mentah, kau tadi bilang kecantikan

puteriku sebatas kulit. Apa artinya?"

"Pinto mengakui bahwa puteri Kauwcu cantik jelita dan pandai. Akan tetapi semua itu hanya sampai

dikulit, hanya akibat pandangan mata lahir. Mata batin takkan dapat ditipu dan takkan silau oleh

kecantikkan. Mata batin mencari sampai kedalam batin pula, mencari kebenaran yang suka tertutup oleh

kepalsuan."

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Merah muka Pat-jiu Sin-ong, akan tetapi mulutnya masih tersenyum. "Anakku memang cantik, ini semua

orang tahu. Kalau mata melihatnya tidak cantik sekalipun, yang salah bukan dia, melainkan matanya!

Tosu mentah, lekas kau pulang ke Kun-lun-san, jangan mencari keributan disini."

"Kalau begitu, pinto minta pelajaran dari Beng-kauwcu!" kata tosu itu sambil mencabut pedangnya. Ia

tadi sudah membuktikan betapa hebat sin-kang dari Ma Thai Kun yang hanya merupakan adik

seperguruan Ketua Beng-kauw ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan pedang di tangan ia

mengira akan dapat mengimbangi lawannya, karena memang Kun-lun-pai terkenal dengan kiam-hoatnya

(ilmu pedangnya).

"Kau menantangku?" Liu Gan bertanya, masih tersenyum.

"Pinto siap!"

"Nah, terimalah ini!" Kedua tangan Pat-jiu Sin-ong bergerak. Begitu cepatnya gerakan kedua lengannya

itu sehingga kedua tangan itu seakan-akan berubah menjadi delapan! Inilah agaknya maka ia mendapat

julukan Pat-jiu (Lengan Delapan). Dalam segebrakan saja Ang Sin Tojin merasa seakan-akan ia diserang

oleh delapan pukulan yang kesemuanya merupakan pukulan maut! Cepat ia menggerakkan tubuhnya dan

memutar pedangnya melindungi diri.

"Plakk! Tranggg... aduhhh...!" Hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana tosu itu

sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya sudah terpukul, membuat pedangnya terpental dan tiba-tiba ia

merasa amat sakit pada telinga dan mata kanannya. Ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter

lalu meloncat lagi berdiri. Telinga kanan dan mata kanannya mencucurkan darah! Ternyata daun telinga

kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan pelupuk mata kanannya pun robek!

"Tosu mentah! Mengingat akan suhengmu, Ang Kun Tojin, dan memandang muka terhormat suhumu,

Kim Gan Sianjin Ketua Kun-lun, aku tidak mengambil nyawamu. Akan tetapi aku tidak dapat

membiarkan matamu yang salah lihat dan telingamu yang salah dengar. Hendaknya pelajaran ini

membuka matamu bahwa Beng-kauw tidak boleh dibuat main-main oleh siapapun juga! Nah, pergilah!"

Ang Sin Tojin maklum bahwa orang sakti didepannya ini bukan lawannya, bahkan suhunya, Ketua

Kun-lun-pai sendiri, belum tentu akan dapat menandinginya. Ia bukan seorang bodoh dan nekat. Tanpa

banyak cakap ia memungut pedangnya, menjura dan berkata, "Pinto hanya dapat melaporkan kepada

suhu bahwa pinto gagal dalam tugas." Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari

situ.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Keadaan di situ sunyi sekali. Ketegangan mencekam dan suasana ini amat tidak enak. Pat-jiu Sin-ong

Liu Gan lalu tertawa dan mengahadapi para tamunya. "Cu-wi yang terhormat harap maafkan gangguan

tadi. Nah, karena soal pemilihan calon mantu sudah disebut-sebut oleh tosu mentah tadi, terpaksa kami

akui bahwa hal itu memang tidak salah.

Cu-wi sudah melihat ilmu silat anakku yang rendah. Oleh karena itu, kalau ada di antara para muda

gagah yang hendak memperlihatkan kepandaian, anakku akan sanggup melayaninya. Mereka yang dapat

mengalahkan anakku Liu Lu Sian berarti lulus dan akan diadakan pemilihan di antara mereka yang lulus,

kalau-kalau ada yang berjodoh menjadi mantukku.

"Ha-ha-ha!" setelah berkata demikian dan menjura, Ketua Beng-kauw ini duduk lagi di tempatnya.

"Eh, saudara muda kwee, kau lihat tosu tadi, menjemukan tidak?"

"Memang menjemukan! Semuanya menjemukan!" kata Kwee Seng.

"Ha-ha, urusan begitu saja jangan menghilangkan kegembiraan kita. Mari minum!"

Keduanya lalu minum lagi dan keadaan di situ menjadi meriah pula.

Sementara itu, Liu Lu Sian sudah meloncat ke tengah panggung lagi setelah meninggalkan pedangnya di

atas meja. Hal ini berarti bahwa ia hanya akan melayani pertandingan tangan kosong, tanpa

mempergunakan senjata.

Ketika melihat gadis cantik itu sudah berdiri siap di tengah panggung, di antara para tamu muda timbullah

suasana gaduh. Sebetulnya banyak sekali pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk

menyaksikan kecantikan gadis yang sudah terkenal itu dengan mata sendiri.

Dan sekarang, setelah melihat Liu Lu Sian, hampir semua pemuda yang hadir di situ tergila-gila dan tak

seorang pun yang tidak ingin memetik tangkai bunga segar mengharum ini. Akan tetapi, menyaksikan ilmu

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kepandaian Lu Sian dan kehebatan ayahnya, sebagian besar para muda itu sudah menjadi gentar dan

tidak berani mencoba-coba.

Apalagi kalau mengingat akan pembunuhan-pembunuhan aneh di dalam rumah penginapan kemarin

malam, mereka merasa ngeri dan membuat sebagian besar di antara mereka mundur teratur! Betapapun

juga, di antara mereka ada juga yang nekat karena mungkin dapat menahan hatinya yang sudah runtuh

oleh kecantikan Lu Sian.

Seorang pemuda berpakaian serba hijau dan yang duduknya di bagian bawah, berjalan dengan langkah

lebar dan gagah ke arah panggung, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah meloncat ke atas

panggung berhadapan dengan Lu Sian.

Pemuda ini berwajah cukup ganteng, alisnya tebal dan matanya tajam, hanya mulutnya lebar

membayangkan ketinggian hati. Dengan sikap gagah ia menjura dan merangkap kedua tangan di depan

dada, memberi hormat kepada Liu Lu Sian sambil berkata, suaranya lantang.

"Aku bernaama Han Bian Ki, dikenal sebagai Siauw-kim-liong (Naga Emas Muda) di lembah sungai

Min-kiang, ingin mencoba-coba kepandaian nona Liu yang gagah."

Lu Sian melirik dan bibirnya melempar senyum manis sekali. Akan tetapi sesungguhnya melihat mulut

yang agak lebar itu ia sudah merasa tidak senang kepada pemuda ini. Orang macam ini berani mau

coba-coba, pikirnya. Apanya sih yang diandalkan ? Tampangnya tidak menarik, dan melihat gerakan

loncatannya, juga tidak banyak dapat diharapkan tentang ilmu silatnya.

"Han-enghiong, tak usah ragu-ragu. Mulailah!" katanya dengan suara dingin.

"Saya Bhong Siat dari lembah Yang-ce!" kata Si Muka Kuning yang suaranya seperti orang berbisik,

atau kehabisan napas.

Makin muak rasa perut Liu Lu Sian menyaksikan majunya dua orang yang berwajah buruk ini. Memang

ia sengaja menantang agar mereka maju sekaligus agar ia tidak usah berkali-kali menghadapi mereka

seorang demi seorang. Pula, tantangannya ini merupakan akal untuk menilai mereka. Yang mau datang

mengeroyoknya manandakan seorang laki-laki pengecut dan yang tidak boleh dihargai sama sekali, perlu

cepat ditundukkan sekaligus.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Han Bian Ki girang melihat majunya dua orang yang semaksud itu. Kini terbuka kesempatan pula

baginya untuk mencari kemenangan, atau setidaknya tentu berhasil menyentuh kulit badan Si Nona atau

beradu lengan. Maka ia tidak mau kalah semangat dan biarpun sudah sejak tadi ia dipermainkan, kini ia

memperlihatkan sikap galak dan menerjang Liu Lu Sian dengan seruan nyaring.

Dua orang yang baru naik itu pun tidak membuang kesempatan ini, membarengi dengan

serangan-serangan mereka karena mereka tahu bahwa serangan tiga orang secara berbarengan tentu

akan lebih banyak memungkinkan hasil baik.

"Menjemukan...!" Liu Lu Sian berseru dan terjadilah penglihatan yang amat menarik. Tiga orang pemuda

itu menyerang dari tiga jurusan, serangan mereka galak dan ganas, apalagi Si Muka Kuning Bhong Siat

yang ternyata merupakan seorang ahli ilmu silat yang mempergunakan tenaga dalam.

Pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan. Namun hebatnya, tak pernah enam buah

tangan dan enam buah kaki itu menyentuh ujung baju Lu Sian.

Gadis itu dalam pandangan tiga orang pengeroyoknya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang

berkelebatan seperti sambaran burung walet yang amat lincah. Dan dalam pertandingan kurang dari dua

puluh jurus, terdengar teriakan-teriakan dan secara susul-menyusul tubuh tiga orang pemuda itu "terbang"

dari atas panggung, terlempar secara yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana. Mereka jatuh

tunggang-langgang dan berusaha untuk merangkak bangun.

"Hemm, orang-orang tak tahu malu. Hayo lekas pergi dari sini!" terdengar suara keras membentak di

belakang mereka dan sebuah lengan yang kuat sekali memegang tengkuk mereka dan tahu-tahu tubuh

mereka seorang demi seorang terlempar keluar. Tanpa berani menoleh lagi kepada Ma Thai Kun yang

melemparkan mereka keluar, tiga orang itu terus saja lari sempoyongan keluar dari halaman gedung.

Para tamu menyambut kemenangan Liu Lu Sian dengan tepuk tangan riuh rendah. Para muda yang

tadinya ada niat untuk mencoba-coba, makin kuncup hatinya dan hampir semua membatalkan niat

hatinya, menhibur hati yang patah dengan kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat menandingi nona

yang amat lihai itu!

Akan tetapi ternyata masih seeorang laki-laki muda yang dengan langkah tegap dan tenang menghampiri

panggung, kemudian dengan gerakan lambat melompat naik. Ketika kedua buah kakinya menginjak

panggung, Lu Sian merasa tergetar kedua telapak kakinya, tanda bahwa yang datang ini memiliki

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lwee-kang yang cukup hebat. Ia menjadi tertarik, akan tetapi ketika mengangkat muka memandang, ia

merasa kecewa.

Laki-laki ini sikapnya gagah dan pakainnya sederhana, mukanya membayangkan kerendahan hati dan

kejujuran, namun sama sekali tidak tampan, matanya lebar dan alisnya bersambung hidungnya pesek!

"Saya yang bodoh Lie Kung dari pegunungan Tai-liang. Sebetulnya saya tidak ada harga untuk

memasuki sayembara, akan tetapi karena sudah sampai di sini dan saya amat tertarik dan kagum

menyaksikan kehebatan ilmu silat Nona, perkenankanlah saya memperlihatkan kebodohan sendiri."

Kata-katanya merendah akan tetapi jujur dan sederhana.

Lu Sian tersenyum mengejek. "Siapa pun juga boleh saja mencoba kepandaian karena memang saat ini

merupakan kesempatan. Nah, silakan saudara Lie maju!"

"Nona menjadi nona rumah dan seorang wanita, saya merasa sungkan untuk membuka serangan."

Jawab Lie Kung.

"Hemm, kalau begitu sambutlah ini!" Secara tiba-tiba Liu Lu Sian menyerang, pukulannya amat cepat,

gerakannya indah akan tetapi bersifat ganas karena pukulan itu mengarah bagian berbahaya di pusar,

merupakan serangan maut ! Lie Kung berseru keras dan kaget. Tak sangkanya nona yang demikian

cantiknya begini ganas gerakanya, maka cepat ia melompat mundur dan mengibaskan tangan dan

menangkis dengan kecepatan penuh.

Lu Sian tidak sudi beradu lengan, menarik kembali tangannya dan menyusul dengan pukulan angan

miring dari samping mengarah lambung. Sekali merupakan terjangan maut yang amat erbahaya, Lie Kung

ternyata gesit sekali karena jungkir balik ia dapat menyelamatkan diri!

Tepuk tangan menyambut gerakan ini karena sekarang para tamu merasa mendapat suguhan yang

menarik, tidak seperti tadi di mana tiga orang pemuda sama sekali tidak dapat mengimbangi permainan

Liu Lu Sian yang gesit. Pemuda pesek ini benar-benar cepat gerakannya walaupun tampaknya lambat

dan tenang.

Setelah diserang selama lima jurus dengan hanya mengelak, mulailah dia mengembangkan gerakannya

untuk balas menyerang. Telah ia duga bahwa pemuda ini merupakan seorang ahli lwee-kang, dan

ternyata benar.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pukulan pemuda ini berat dan antep, hanya sayangnya pemuda ini berlaku sungkan-sungkan, buktinya

yang diserang hanya bagian-bagian yang tidak berbahaya. Marahlah Lu Sian. Sikap pemuda yang hanya

mengarahkan serangan pada pundak, pangkal lengan dan bagian-bagian lain yang tidak berbahaya itu,

baginya diterima salah. Dianggap bahwa pemuda ini terlampau memandang rendah padanya,

seakan-akan sudah merasa pasti akan menang sehingga tidak mau membuat serangannya berbahaya.

Setelah lewat tiga puluh jurus mereka serang-meyerang, tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara

kelengking tinggi yang mengejutkan semua orang. Gerakannya tiba-tiba berubah lambat dan aneh,

pukulannya merupakan gerakan yang melingkar-lingkar.

"Bagaimana kaulihat pemuda itu?" Pat-jiu Sin-ong bertanya ketika ia melihat Kwee Seng menoleh dan

menonton pertandingan, tidak seperti tadi ketika tiga orang pemuda mengeroyok Lu Sian. Kwee Seng

memandang acuh tak acuh.

"Lumayan juga. Bakatnya baik dan kalau ia tidak terlalu banyak kehendak, ia dapat menjadi ahli

lwee-keh yang tangguh."

"Ha-ha, kaulihat . Puteriku sudah mulai mainkan Sin-coa-kun ciptaanku yang terakhir. Pemuda itu

takkan dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus!"

Diam-diam Kwee Seng memperhatikan. Ilmu Silat Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti) memang hebat,

mengandung gerakan-gerakan ilmu silat tinggi yang disembunyikan dalam gaya kedua tangan yang

gerakannya seperti ular menggeliat-geliat dan melingkar-lingkar.

Namun dalam ilmu silat ini terkandung sifat yang amat ganas, dan kembali sepasang alis pemuda ini

berkerut saking kecewa. Sungguh sayang sekali, kecantikan seperti bidadari itu, dirusak sifat-sifat liar

dan ganas, diisi ilmu yang amat keji.

Untuk mengusir kekecewaan yang menggeregoti hatinya, pemuda ini menuangkan arak sepenuhnya dan

mengangkat cawan. "Minum biar puas!" lalu sekali tenggak habislah arak itu. Pat-jiu Sin-ong tertawa

bergelak dan minum araknya pula.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ramalan Pat-jiu Sin-ong ternyata terbukti. Tepat sepuluh jurus, setelah pemuda she Lie itu terdesak dan

bingung menghadapi dua lengan halus yang seperti sepasang ular mengamuk, lehernya kena dihantam

tangan miring. Ia mengaduh dan terhuyung-huyung ke belakang, akan tetapi tepat pada saat lehernya

dihantam, ia dapat mengibaskan tangannya mengenai lengan Lu Sian sehingga menimbulkan suara

"plakk!" dan gadis itu menyeringai kesakitan, lengannya terasa panas sekali.

Biarpun ia sudah tahu bahwa pukulannya mengenai leher lawan dengan tepat, karena lengannya

tertangkis tadi, Lu Sian menjadi marah dan cepat ia maju lagi mengirim pukulan yang agaknya akan

menamatkan riwayat pemuda itu.

"Cukup...!!" tiba-tiba sesosok bayangan meloncat ke atas panggung dan dengan cepat menangkis tangan

Lu Sian yang mengirim pukulan maut. "Dukkk!" Dua buah lengan tangan bertemu dan keduanya

terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Dengan kemarahan meluap-luap Lu Sian memandang orang yang begitu lancang berani menangkis

pukulannya tadi. Ia membelalakkan matanya dan... tiba-tiba ia merasa seakan-akan jantungnya

diguncang keras, kemarahannya lenyap dan ia terpesona. Belum pernah selama hidupnya ia melihat

seorang pemuda yang begini ganteng!

Rambutnya hitam tebal diikatkan ke atas dengan sehelai sutera kuning. Pakaiannya indah dan ringkas,

membayangkan tubuhnya yang tegap berisi, dadanya yang bidang. Alisnya berbentuk golok, hitam seperti

dicat, hidung mancung, mulut berbentuk bagus membayangkan watak gagah dan hati keras.

Pendeknya, wajah dan bentuk badan seorang jantan yang tentu akan meruntuhkan hati setiap orang

gadis remaja! Seketika Lu Sian jatuh hatinya, akan tetapi mengingat perbuatan lancang pemuda ini, untuk

menjaga harga dirinya, ia menegur juga, hanya tegurannya tidak seketus yang dikehendakinya.

"Kau siapa, berani lancang turun tangan mencampuri pertandingan ?"

Pemuda itu menuntun Lie Kung sampai ke pinggir panggung, menyuruhnya mengundurkan diri, Lie Kung

menjura ke arah Liu Lu Sian lalu melompat turun, terus pergi meninggalkan tempat itu. Setelah itu, baru

pemuda yang membawa sebuah golok disarungkan dan digantungkan pada pinggangnya itu membalikkan

tubuh menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata.

"Maaf, Nona. Memang saya tadi berlaku lancang. Akan tetapi sekali-kali bukan dengan maksud hati

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

yang buruk, hanya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sudah terlalu jiwa melayang...ah,

sayang sekali. Kunasihatkan kepadamu, Nona. Hentikan cara pemilihan suami seperti ini. Tiada guna!

Dan kasihan kepada yang tidak mampu menandingimu. Nah, sekali lagi maafkan kelancanganku tadi!" Ia

menjura dan hendak pergi.

"Eh orang lancang! Bagaimana kau biasa pergi begitu saja setelah menghinaku ? Hayo maju kalau kau

memang berkepandaian!" Lu Sian sengaja menantang karena hatinya sudah jatuh dan ingin ia menguji

kepandaian laki-laki yang menarik hatinya ini. Kalau memang benar seperti dugaannya, bahwa laki-laki

ini seperti terbukti ketika menagkisnya tadi, memiliki kepandaian tinggi, ia akan merasa puas mendapat

jodoh setampan dan segagah ini.

Kwee Seng memang tampan pula tetapi terlalu tampan seperti perempuan, kalah gagah oleh pemuda ini.

Dan biarpun ia tahu ilmu kepandaian Kwee Seng mungkin hebat, akan tetapi sikap pemuda itu terlalu

halus, terlalu lemah lembut, kurang "jantan!"

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, kembali menjura kepada Lu Sian sambil berkata, suaranya perlahan.

"Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang.. akan tetapi... bukan beginilah

caranya. Maafkan, Nona, biarlah aku mengaku kalah terhadapmu!" Sambil melempar pandang tajam

yang menusuk hati Lu Sian, pemuda itu hendak mengundurkan diri.

"Apakah engkau begitu pengecut, berani berlaku lancang tidak berani memperkenalkan diri ? Siapakah

kau yang sudah berani... menghinaku?

Dimaki pengecut, pemuda itu menjadi merah mukanya. "Aku bukan pengecut! Kalau Nona ingin benar

tahu, namaku adalah Kam Si Ek dari Shan-si." Setelah berkata demikian, pemuda gagah bernama Kam

Si Ek itu lalu meloncat turun dari panggung dan cepat-cepat lari keluar dari halaman gedung.

Sampai beberapa saat lamanya Liu Lu Sian berdiri bengong di atas panggung, merasa betapa

semangatnya seakan-akan melayang-layang mengikuti kepergian pemuda ganteng itu, "Pat-jiu Sin-ong,

kau baru saja kehilangan seorang calon mantu yang hebat!" Kwee Seng berkata sambil menyambar

daging panggang dengan sumpitnya.

"Kau maksudkan bocah ganteng tadi? Siapakah dia? Namanya tidak pernah kudengar," jawab Pat-jiu

Sin-ong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ha-ha-ha! Kam Si Ek adalah panglima muda di Shan-si dan hanya karena adanya pemuda itulah maka

Shan-si terkenal daerah yang amat kuat dan membuat gubernurnya yang bernama Li Ko Yung terkenal.

Cocok sekali dia dengan puterimu. Puterimu menjadi perebutan pemuda-pemuda, sebaliknya entah

berapa banyaknya gadis di dunia ini yang ingin menjadi istrinya! Ha-ha-ha!" Terang bahwa Kwee Seng

sudah mulai terpengaruh arak.

Memang sebetulnyalah kalau pemuda itu tadi mengatakan bahwa dia tidak bias minum arak

banyak-banyak. Akan tetapi karena kerusakan hatinya menghadapi cinta terhadap Liu Lu Sian

berbareng kecewa, ia sengaja nekat minum terus tanpa ditakar lagi.

"Huh, apa artinya panglima bagiku? Dia memang tampan, akan tetapi kalau disuruh memilih kau, Kwee

Seng!"

Liu Lu Sian tersentak kaget dan membalikkan tubuh, masih berdiri di tengah panggung. Juga para tamu

mrndengar percakapan yang dilakukan dengan suara keras itu. Kini mereka memandang ke arah mereka,

terutama sekali Kwee Seng menjadi pusat perhatian.

Pemuda ini sudah bangkit berdiri, cawan arak di tangan kanannya. Hatinya berguncang keras ketika ia

mendengar ucapan ketua Beng-kauw itu. Betapa tidak ? Jelas bahwa Ketua Beng-kauw ini agaknya

suka memilih dia sebagai mantu. Dan dia sendiri pun sudah jelas mencintai gadis jelita itu, hal ini tidak

dapat ia bantah, seluruh isi hati dan tubuhnya mengakui.

Mau apa lagi? Tinggal mengalahkan gadis itu, apa sukarnya? Akan tetapi di balik rasa cinta, di sudut

kepalanya di mana kesadarannya berada, terdapat rasa tak senang yang menekan kembali rasa cinta

kasihnya dengan bisikan-bisikan tentang kenyataan betapa keadaan gadis itu dan keluarganya sama

sekali tidak cocok, bahkan berlawanan dengan pendirian dan wataknya.

Ia jatuh cinta kepada seorang dara yang berwatak liar dan ganas, sombong dan tinggi hati, licik dan keji,

gadis yang menjadi puteri tunggal Ketua Beng-kauw yang sakti, aneh dan sukar diketahui bagaimana

wataknya. Gadis yang menjadi sebab kematian banyak pemuda yang tak berdosa!

Kesadarannya membisikkan bahwa betapa pun ia mencintai gadis itu, cintanya hanya karena pengaruh

kejelitaan gadis itu dan kalau ia menuruti cintanya yang terdorong nafsu, kelak akan tersiksa hatinya.

Akan tetapi perasaannya membantah kalau ia boleh membawa pergi gadis itu bersamanya, mungkin ia

bisa membimbingnya menjadi seorang isteri yang baik dan cocok dengan sifat-sifat dan wataknya.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Lo-enghiong, jangan main-main!"

"Ha-ha, siapa main-main ? Kwee-hiantit hanya kaulah yang agaknya pantas bertanding dengan puteriku.

Hayo kau kalahkan dia, kalau tidak anakku itu akan makin besar kepala saja dan para tamu tentu akan

mengira aku hendak menang sendiri! Ha-ha-ha!"

"Hemmm, puterimu berkepandaian tinggi. Terus terang saja, akupun ingin sekali menguji kepandaiannya.

Akan tetapi... hemm, Lo-enghiong, harap jangan salah sangka. Dengan jujur aku mengaku bahwa

puterimu telah menarik hatiku. Akan tetapi, perjodohan melalui pertandingan memang kurang tepat, yang

perlu hati masing-masing.

Bagaimana kalau aku naik ke panggung, tapi bukan untuk memasuki sayembara pemilihan jodoh, hanya

sekedar main-main menguji kepandaian belaka?" Ucapan ini dilakukan perlahan tidak terdengar orang

lain.

Akan tetapi Ketua Beng-kauw itu tertawa keras dan menjawab dengan suara keras pula. "Ha-ha-ha-ha!

Aku mengerti,kau memang seorang yang teliti dan cermat, terlalu berhati-hati! Kalau menyalahi

peraturan, berarti melanggar dan siapa melanggar harus didenda!"

Kwee Seng tertawa pula dan menenggak sisa araknya. "Dendanya bagaimana? Kau harus menurunkan

ilmu pukulan yang kau pergunakan untuk mengalahkan puteriku itu kepadanya."

"Aku. Tapi dia harus ikut denganku ke mana aku pergi."

"Boleh. Nah, orang muda, kau cobalah!"

Hati Liu Lu Sian sudah mendongkolkan sekali mendengarkan percakapan antara ayahnya dan pemuda

pelajar yang kelihatan lemah lembut itu. Apalagi ketika ia melihat Kwee Seng berjalan menghampirinya

dengan langkah sempoyongan dan mukanya yang berkulit putih halus itu kelihatan merah sekali,

tanda-tanda seorang mabuk!

"Apakah Kwee-kongcu juga tidak mau ketinggalan dalam lomba pameran kepandaian?" Liu Lu Sian

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

menegur dengan kata-kata dingin. Ternyata gadis ini masih mendongkol mengingat betapa tadi di depan

ayahnya, Kwee Seng sudah membikin basah pakaiannya dengan arak, merupakan bukti bahwa dalam

adu tenaga secara diam-diam itu, pemuda ini sudah memang setingkat daripadanya.

"Cuma kali ini Kongcu sedang mabuk, tidak enak kalau aku mencari kemenangan dan seorang yang

mabok!" Dengan kata-kata ketus ini, Liu Lu Sian hendak menebus rasa malunya tadi.

Kwee Seng tersenyum dan diam-diam mengagumi wajah yang demikian eloknya, mulut yang biarpun

menghamburkan kata-kata pedas dan pahit, namun tetap manis didengar. Matanya yang agak mabok itu

seakan-akan lekat pada bibir itu dan sejenak Kwee Seng terpesona, tak dapat berkata apa-apa, tak

dapat bergerak memandang ke arah mulut dara jelita.

Bibir merah basah menantang Bentuk indah gendewa terpentang Hangat lembut mulut juita Sarang madu

sari puspita Senyum dikulum bibir gemetar Tersingkap mutiara indah berjajar Segar sedap lekuk di pipi

Mengawal suara merdu sang dewi!

"Heh, kenapa kau melongo saja?" tiba-tiba Lu Sian membentak, lenyap sikapnya menghormat karena ia

tak dapat menahan kejengkelan hatinya.

Kwee Seng sadar dari lamunannya. "Eh..., ohh... Nona, kau tahu, aku sebetulnya tidak ingin memasuki

sayembara... dan aku ...aku lebih suka bertanding dengan si pemilik tangan maut!" Sambil berkata

demikian ia menoleh, matanya mencari-cari.

"Cukup! Tak perlu banyak bicara lagi Kwee-kongcu. Aku sudah mendengar bahwa kalau aku kalah,

aku harus menjadi muridmu dan ikut pergi bersamamu!" kata pula Lu Sian dengan senyum mengejek.

"Akan tetapi jangan kira akan mudah mengalahkan aku!" Setelah berkata demikian, gadis itu berkelebat

cepat dan tahu-tahu ia sudah lari menyambar pedangnya yang terletak diatas meja dan secepat itu pula

berkelebat kembali menghadapi Kwee Seng.

Pemuda itu tersenyum, senyum yang mengandung banyak arti, setengah mengejek dan setengah kagum

begitu cepatnya gadis itu bergerak dan menyarungkan pedangnya dengan gerakan indah. Lu Sian

merasakan ejekan ini dan dengan gemas ia berkata," Menghadapi seorang sakti seperti engkau ini,

Kwee-kongcu, tidak bisa disamakan dengan segala cacing tanah tadi.

Aku mengharapkan pelajaran darimu dalam menggunakan senjata!" Sambil berkata demikian gadis ini

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mencabut pedangnya dan tampaklah sinar berkelebat, putih menyilaukan mata.

"Lu Sian, mundurlah! Manusia ini terlalu sombong, biar aku mewakilimu memberi hajaran!" Tiba-tiba

bayangan tinggi kurus melayang ke depan Kwee Seng dan sebuah lengan menyambar ke arah dada

pemuda itu.

"Wutttt!" Kwee Seng miringkan pundaknya dan pukulan yang hebat itu lewat cepat.

"Hemm, aku senang sekali melayanimu!" kata Kwee Seng dan jari telunjuknya menotok ke arah

pergelangan tangan yang lewat di sampingnya. Akan tetapi secepat itu pula Ma Thai Kun sudah menarik

kembali lengannya sehingga dalam dua gebrakan ini mereka berkesudahan nol-nol atau sama cepatnya.

"Ji-sute, mundur kau!" kembali Liu Gan berseru keras dan biarpun matanya melotot marah, Ma Thai

Kun tidak berani membantah perintah suhengnya dan ia mundurkan diri dengan kemarahan di

tahan-tahan.

Orang She Kwee, kau terlalu sombong. Lihat pedangku!" bentak Liu Lu Sian sambil menggerakan

pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang membuat

lingkaran-lingkaran lebar, makin lama lingkaran itu makin lebar mengurung tubuh Kwee Seng. Namun

pemuda ini hanya menggerakkan sedikit tubuhnya dan selalu ia terhindar daripada kilat yang berpencaran

keluar dari sinar pedang itu.

"Lu Sian, jangan pandang ringan dia! Gunakan Toa-hong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Badai)!" seru

Liu Gan dengan suara gembira, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.

Begitu gebrakan pertama dan selanjutnya secara cepat berlangsung, Lu Sian sudah mengerti bahwa

Kwee Seng ini benar-benar amat lihai. Pedangnya yang menyambar-nyambar seperti hujan cepatnya itu

ternyata dapat dielakkan secara aneh dan sama sekali tidak tampak tergesa-gesa, seakan-akan

gerakan-gerakannya ini masih terkampau lambat bagi Kwee Seng.

Oleh karena ini, begitu mendengar seruan ayahnya, ia segera mengerahkan tenaga dan berlaku hati-hati,

cepat ia mainkan ilmu pedang ajaran ayahnya, yaitu Toa-hong Kiam-hoat. Gadis ini mengerti bahwa kali

ini ia tidak saja harus menjaga harga dirinya, melainkan juga menjaga muka ayahnya.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Melihat perubahan ilmu pedang gadis itu yang kini menderu-deru seperti angin badai mengamuk,

diam-diam Kwee Seng kaget dan kagum. Tak percuma Ketua Beng-kauw mendapat julukan Pat-jiu

Sin-ong dan tidak percuma pula gadis itu menjadi puteri tunggalnya karena ilmu pedang ini amat cepat

dan hebat berbahaya sehingga tak mungkin dihadapi mengandalkan kecepatan belaka.

Pemuda sakti ini maklum pula bahwa Pt-jiu Sin-ong seorang yang amat licik dan aneh. Tentu sekarang

Ketua Beng-kauw itu menyuruh anaknya mengeluarkan ilmu pedang simpanan agar terpaksa ia

mengeluarkan ilmunya yang sejati pula untuk mengalahkan Lu Sian.

Kwee Seng maklum pula bahwa janji untuk menurunkan ilmunya yang mengalahkan Lu Sian, adalah janji

yang amat licik dari Pat-jiu Sin-ong, yang membayangkan sifat loba seorang ahli silat yang ingin sekali

menguasai seluruh ilmu yang paling sakti di dunia ini.

Melalui puterinya, Ketua Beng-kauw ini hendak memancing-mancing ilmu silatnya untuk menambah

perbendaharaan ilmu Pat-jiu Sin-ong! Karena tidak ingin menggunakan ilmu simpanannya untuk

mengalahkan Lu Sian agar ia tidak usah menurunkan ilmu itu pada gadis ini, kembali Kwee Seng

mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang lebih tinggi daripada kepandaian gadis itu untuk

meleset kesana kemari, menyelinap di antara sambaran pedang Lu Sian yang seperti badai mengamuk itu.

Akan tetapi belum lima belas jurus Lu Sian mainkan Ilmu Pedang Toa-hong-kian, ayahnya sudah berseru

lagi.

"Lu Sian, pergunakan Pat-mo Kiam-hot!" Ilmu pedang Pat-mo-kiam (Pedang Delapan Iblis) ini sengaja

diciptakan oleh Pat-jiu Sin-ong untuk mengimbangi Ilmu Pedang Pat-sian-kiam (Pedang Delapan Dewa)

yang pernah ia hadapi dahulu. Hebatnya bukan kepalang. Lu Sian kembali menurut perintah ayahnya dan

gerakan pedangnya berubah lagi.

Kini pedangnya tidak mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mendasarkan serangan pada

penggunaan tenaga sin-kang (tenaga sakti). Setiap tusukan atau bacokan mengandung tenaga mujijat

sehingga anginnya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat.

Kembali Kwee Seng kaget dan kagum. Seperti juga sifatnya Pat-sian-kiam yang ia kenal, ilmu pedang

ini rapi sekali, seakan-akan dimainkan oleh delapan orang, namun Pat-mo-kiam mengandung sifat yang

lebih ganas dan keji. Mendadak ia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Biarpun Pat-mo-kiam

diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kiam, namun ilmu silat hanya sekedar teori atau peraturan gerakan

belaka yang terpenting adalah orangnya. Karena tingkatnya lebih tinggi daripada tingkat Lu Sian, maka ia

merasa sanggup mengalahkan Pat-mo-kiam yang dimainkan gadis ini dengan ilmu pedang Pat-sian-kiam.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ia berseru keras dan tahu-tahu tangannya sudah mencabut keluar sebuah kipas yang di sembunyikan di

dalam bajunya. Cepat ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian-kiam, kipasnya mengeluarkan angin yang kuat

sekali sehingga gulungan sinar pedang putih terdesak dan tiba-tiba Lu Sian berseru keras karena siku

No comments:

Post a Comment